Cibubur > Properti

Ingin Cepat Punya Rumah, Terapkan Rumus 40:30:20:10

Kamis, 21 September 2017 12:54 WIB
Editor : Muhamad Ibrahim | Sumber : DBS

Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)
Foto : istimewa

Share this








Rumus 40:30:20:10 belum banyak dipahami oleh karyawan sehingga hasrat untuk membeli rumah tak kunjung datang.

CIBUBUR – Membeli rumah bukan perkara mudah. Terlebih saat ini, sejelek-jeleknya rumah, harga minimalnya Rp 100 jutaan. Harga tersebut bikin geleng-geleng kepala bagi seorang karyawan biasa yang bergaji pas-pasan.

Namun kondisi tersebut jangan sampai mengurungkan niat Anda membeli rumah. Kebutuhan primer yang satu ini harus terus diperjuangkan. Jangan pernah menyerah, apa lagi berhenti menyisihkan dana buat beli rumah.

Agar bisa menyisihkan dana, pastinya gaji atau penghasilan mesti diatur pengeluarannya. Tidak masalah berapa besar gaji Anda, jika diatur dengan baik pasti ada dana yang bisa disisihkan untuk membeli rumah.

Nah, untuk mengelola gaji atau penghasilan ada rumusnya. Anda pernah mendengar rumus 40:30:20:10 ? jika belum tahu, berikut penjelasannya, seperti mengutip laman Rumah123.com, Kamis (21/9)

Pola atau rumus 40:30:20:10 sendiri maksudnya membagi gaji: 40% untuk biaya hidup dan pengeluaran rutin, 30% bayar cicilan, tabungan dan dana darurat, 20% untuk dana sosial semisal sedekah, hiburan, rekreasi, kawinan teman, 10% untuk investasi.

Catat, Agar Anda bisa menerapkan rumus tersebut dalam mengelola keuangan, jangan sampai bertingkah ‘lebih besar pasak daripada tiang’. Apalagi sampai ngutang agar tidak mati gaya atau menggunakan kartu kredit untuk membeli ‘keinginan’ bukan ‘kebutuhan’.

Selalulah prioritaskan kebutuhan daripada keinginan. Itu nasihat sakti untuk mengelola keuangan. Itu pula sebabnya di rumus tersebut pengeluaran rutin untuk bertahan hidup persentasenya paling besar (40%) dibandingkan dengan pos pengeluaran yang lain.

Yang masuk kategori kebutuhan, contohnya makan. Setiap orang yang hidup pastinya butuh makan. Tapi, apa yang dimakan harus disesuaikan dengan kocek. Contohnya, jika tidak makan masakan restoran kita tidak bakal mati kan? Jadi, pintar-pintarlah memenuhi kebutuhan, bukan keinginan.

Upaya lain yang bisa mendukung kita bisa menerapkan rumus pengeluaran tersebut adalah asuransi (proteksi). Bentuknya bisa berupa asuransi kesehatan, asuransi ketenagakerjaan. Kalau sudah punya keluarga bisa asuransi jiwa, asuransi pendidikan, dan lain-lainnya.

Kalau rumus itu tak bisa kamu terapkan karena 100% gaji atau penghasilanmu hanya bisa untuk membiayai kebutuhan hidup rutin, maka inilah waktunya kamu mencari penghasilan tambahan (side job). Coba cermati lagi berapa waktumu yang masih bisa digunakan untuk kerja sambilan. Manfaatkan sisa waktu itu untuk benar-benar ‘menghasilkan’.

Andai tak ada waktu tersisa untuk pekerjaan sambilan, mungkin ini waktunya kamu mencari pekerjaan lain yang bergaji lebih besar. Mumpung masih muda, masih produktif, kenapa tidak?