Cibubur > Laporan Utama

Paham Radikal dan Intoleransi Mulai Masuk ke Anak-anak

Senin, 17 Juli 2017 19:16 WIB
Editor : Muhammad Saiful Hadi | Reporter : Chandra Purnama

Konferensi pers Komnas Perlindungan Anak.
Konferensi pers Komnas Perlindungan Anak.
Foto : Chandra Purnama

Share this








Anak-anak sudah dimasuki penanaman paham radikalisme, intoleransi, kebencian dan kekerasan oleh kelompok tertentu.

CIRACAS -  Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menggelar konferensi pers untuk memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2017 yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2017. Konferensi Pers ini digelar di Kantor Komnas Anak jalan TB Simatupang, Pasar Rebo Jakarta Timur.

Ketua Umum Komnas Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan, saat ini mulai muncul bentuk-bentuk penanaman paham radikalisme, intoleransi, kebencian dan kekerasan dikalangan anak baik diruang kelas, rumah dan diruang publik.

Beberapa temuan yang kerap terjadi seperti anak kerap disebut kafir karena beda agama, beda pemahaman dan menghambat tujuan, visi dan misi kelompok tertentu. "Fakta lain menunjukkan 1 dari 4 anak dibully karena agama," kata Arist di kantor Komnas Anak, Senin (17/7/2017).

Selain itu, Arist juga mengatakan 79,05 persen siswa mempertimbangkan agama dalam memilih teman dan anak diajarkan kebencian dengan cara melibatkan anak dalam kegiatan-kegiatan aksi demonstrasi, kegiatan Politik orang dewasa yang dibungkus dengan identitas agama.

Menurut Arist, komnas Anak juga menemukan data sebanyak 62.8 persen Remaja memilih Jihad untuk mengimplementasikan Heroik remaja. "Ini sangat rawan dimanfaatkan menjadi pengantin (bom bunuh diri)," ujarnya

Dalam data yang Komnas Anak kumpulkan, lanjut Arist, 80 persen siswa-siswi mempertimbangkan agama untuk memilih Ketua OSlS atau kegiatan sekolah.

"Data menemukan 200 anak diluar wilayah hukum Indonesia telah dilatih Jihad ala Tentara dengan mengedepankan permusuhan dan atau kebencian. 41 persen dari 256 SD Negeri tidak mengajarkan dan memperkenalkan Pancasila sebagai dasar Negara," ujarnya

Dengan berbagai macam temuan tersebut, paham radikalisme saat ini sangat mengkhawatirkan bagi anak-anak. Arist mengatakan Komnas Anak tidak akan tinggal diam. Dalam Memperingati HAN 2017, hal tersebut menjadi perhatian khusus Komnas Anak.

"Anak-anak berhak mendapat perlindungan dari Penyalahgunaan dalam kegiatan politik, Pelibatan dalam sengketa bersenjata, Pelibatan dalam kerusuhan sosial, Pelibatan dalam peristiwa yang mengandung kekerasan dan dan Pelibatan dalam peperangan," ujarnya.