​HAPPY CIBUBUR, Wadah Para Istri Pegawai Telkom
Cibubur > Komunitas

​HAPPY CIBUBUR, Wadah Para Istri Pegawai Telkom

Rabu, 30 November 2016 10:44 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Akb

?HAPPY CIBUBUR
?HAPPY CIBUBUR

Share this





Info Komunitas - HAPPY Cibubur terbentuk sejak 10 tahun silam. Idenya berasal dari salah satu anggota. Dia biasa disapa Asti. Kala itu, Asti menilai banyak pegawai PT Telkom yang tinggal di Kota Wisata. Terbersit olehnya untuk mengumpulkan para istri pegawai PT Telkom ini. Mewadahi perkumpulan itu dalam sebuah komunitas.

"Anggota komunitas ini adalah para istri dimana para suami kita adalah pegawai PT Telkom," ujar Badria Gunawan, ketua HAPPY Cibubur.

Komunitas ini rutin mengadakan arisan. Pada momen tertentu menggelar kegiatan seminar. " Kadang dimomen tertentu, kita mengadakan bakti sosial juga kok," tegasnya.

Tempat kumpulnya dirotasi. Di setiap rumah anggota, secara bergiliran. Kini, anggotanya mencapai 30 orang. Kini, anggotanya tidak hanya dari perumahan Kota Wisata saja. Ada beberapa dari Bekasi, Bumi Serpong Damai, dan beberapa daerah di Jakarta.

"Kan yang namanya suami kerap mendapatklan tugas kerja yang sewaktu-waktu bisa dipindah-tugaskan, maka gak heran, beberapa dari kita sudah ada yang tinggal di daerah lainnya, karena ikut sang suami," ujarnya.

Namun, ada beberapa anggota yang memutuskan untuk tetap tinggal di perumahan ini. Meskipun, sang suami harus pindah tugas keluar kota. "Mungkin, mereka sudah merasa nyaman dengan lingkungan dan sosialisasi di sini," kata perempuan asal Bandung ini.

Badriah mengungkap, HAPPY Cibubur sudah memasuki usia satu darsawarsa. Dia berharap, para anggotanya semakin kompak. "Semoga kekeluargaan kita semakin erat, silaturahim terus terjaga. Rasa kebersamaan selalu tetap ada. Misal jika ada penghuni baru yang bisa kita ajak bergabung, mengapa tidak?" cetusnya.

Badriah membocorkan tentang syarat keanggotaan. Kini, anggota HAPPY Cibubur bukan para istri dari pegawai PT Telkom saja. Siapa saja bisa bergabung. "Sebenarnya, siapa pun boleh, asalkan memiliki komitmen dan rasa saling menghormati dengan sesama anggota," tutupnya.

Cibubur > Komunitas

​Citroen Club Indonesia, Jalin Pertemanan hingga Mancanegara

Rabu, 26 Oktober 2016 11:31 WIB
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : Purwanto

?Citroen Club Indonesia
?Citroen Club Indonesia

Share this





Info Komunitas - Penggemar mobil klasik asal Perancis ini terbilang eksis. Awalnya, ada 6 orang yang biasa berdiskusi di mailing list khusus Citroen. Di kemudian hari, mereka membentuk komunitas. Citroen Club Indonesia (CCI). Berdiri di Jakarta sejak 18 Maret 1998.

Kini, anggotanya mencapai 50 orang. Berasal dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Mulai dari Aceh, Medan, Bogor, Bandung, Semarang, Malang, Surabaya, Balikpapan, Denpasar, Lombok. “Selain itu, kita menjalin hubungan dengan pemakai mobil Citroen dari berbagai negara, seperti Malaysia, Thailand, Belanda, Inggris dan Perancis,” terang Pranada, ketua Citroen Club Indonesia.

Bagi Pranada atau biasa disapa Aan, wadah ini bisa menambah wawasan anggota. Wadah berbagi informasi mengenai cara memelihara dan mempertahankan kendaraan. Apalagi, Citroen tergolong langka. Baik unit maupun suku cadangnya. Sebab, ATPM mobil ini sudah tidak ada di Indonesia sejak tahun 2000.

Nothing moves you like a Citroen. Inilah tagline yang diusung CCI. Citroen pernah jaya di era 1960-1970-an. Tergolong mobil mewah pada masanya.

 “Tidak sembarangan teknisi yang mengerti kendaraan ini,” beber pria kelahiran Palembang ini.

Kegiatan rutin komunitas ini, selain kopdar, berpartisipasi pada berbagai acara otomotif. Seperti pameran, rally wisata, touring dan kegiatan jambore. Salah satu lokasi kopdar rutin dipilih kawasan Cibubur. “Melihat kondisi mobil Citroen masuk kategori untuk hobi, koleksi, dan berumur, maka kita harus pandai-pandai memilih waktu untuk berkumpul di daerah ini,” pungkasnya.

Belum lama, komunitas ini mengadakan acara bertajuk ‘Jambore Cibubur: Temu Kangen Citroen’. Kegiatannya berlangsung selama dua hari itu. Diikuti lebih dari 30 pemilik Citroen. Peserta berasal dari Jabodetabek, Semarang, dan Malang.

Berminat menjadi anggota? Mudah saja. Selain memiliki unit mobil Citroen, calon anggota menaati aturan yang berlaku. Saat kopdar, selain bertukar pikiran tentang otomotif, antar anggta ada juga yang membicarakan bisnis.

Cibubur > Komunitas

​Cileungsi Inline Skate, Berharap Ada Turnamen Inline Skate

Jumat, 23 September 2016 15:16 WIB
Editor : Wahyu AH | Reporter : Purwanto

?Cileungsi Inline Skate
?Cileungsi Inline Skate

Share this





Info Komunitas - Bersepatu roda mengelilingi komplek. Ada yang berkeliling di taman-taman perumahan. Olahraga itu sedang digandrungi anak-anak dan kawula muda. Cileungsi Inline Skate hadir sebagai wadah pehobi olahraga satu ini. Berdiri sejak 1 April 2016. Ide pembentukannya berasal dari Adit Eko Prabowo.

Awalnya, Adit bersepatu roda sendiri. Di Metland Transyogi Cileungsi, dia bertemu teman dengan hobi sama. Kemudian, anggota bertambah. “Banyak ibu-ibu senam disini yang berniat agar anaknya diajarkan main sepatu roda,” ungkap Adit, yang juga ketua Cileungsi Inline Skate.

Adit melihat, di Jakarta banyak berdiri komunitas Inline Skate. Di Cileungsi belum ada. Itu sebabnya, dia mendirikan Cileungsi Inline Skate. “Selain itu, kami mencoba memberikan manfaat kepada orang lain, kami juga mengajarkan anak-anak kecil yang ingin bermain, tanpa di pungut biaya,” tambahnya.

Menurut Adit, terdapat empat jenis sepatu roda yang dimainkan anggota komunitasnya. Yaitu, jenis agressive, urban, swallom, dan freelance. Sebagian besar anggota komunitas ini menggunakan jenis sepatu roda urban.

Bagi Anda yang ingin bergabung bisa datang ke ruko Eboni, Metland Transyogi Cileungsi. Komunitas ini biasa kumpul setiap Sabtu. Mulai pukul 16.00 – 22.00 WIB. Pada Minggu, mulai pukul 7.00 – 10.00 WIB dan pukul 16.00 - 18.00 WIB.

Setiap anggota diwajibkan membayar iuran untuk kas sebesar Rp 5.000. Dana yang terkumpul digunakan untuk menjenguk anggota yang sakit. Lalu, membuat event kecil, serta melengkapi sarana bermain seperti track, pumping, dan green.

Adit berharap, pecinta Inline Skate di Cileungsi bertambah banyak. Kini anggotanya terdiri dari 14 desawa, 8 anak, dan ada 30 anggota lain yang tidak aktif.

“Biar bisa makin solid, bertambah, dan makin kompak, selain itu bisa ikut turnamen juga, ada beberapa kali berkunjung juga, ada di daerah Zamrud (Bekasi Timur). Akan selalu melakukan kopdar di daerah tertentu,” pungkas Adit.

Cibubur > Komunitas

White Car Indonesia Regional Bekasi, Ingin Menjadi Mitra Bagi Komunitas Lain

Selasa, 30 Agustus 2016 14:44 WIB
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : Budiyanto Rusli

White Car Indonesia Regional Bekasi
White Car Indonesia Regional Bekasi

Share this





Komunitas - Padatnya rutinitas membuat seseorang merasa jenuh dan penat. Beragam cara dilakukan untuk mengusir kepenatan dan kejenuhan. Salah satunya menghabiskan waktu akhir pekan bersama keluarga maupun teman. Bagi pecinta otomotif yang tergabung dalam komunitas, akhir pekan biasa diisi dengan mengadakan kopi darat (kopdar) dengan rekan satu komunitasnya. White Car Indonesia Regional Bekasi salah satunya. Minggu (20/3), komunitas yang beranggotakan lebih dari seratus orang ini menggelar kopdar di Keong Mas Taman Mini Indonesia Indah.

White Car Indonesia (WCI) merupakan wadah bagi pecinta mobil berwarna putih dari berbagai merek mobil. Menurut Andy Salehuddin, ketua White Car Indonesia Regional Bekasi, warna putih sering diartikan dengan bersih dan suci. Perwujudan warna inilah, lanjutnya, yang menjadi harapan dan tujuan awal berdirinya komunitas ini.

Selain itu, lanjut Andy, komunitas yang dideklarasikan 24 November 2013 ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk semua orang, baik intern WCI maupun antar lintas komunitas. “Kami ingin menjadi patner atau mitra untuk komunitas lain,” jelasnya saat ditemui disela-sela kopdar di TMII. Menurut Andy, kegiatan komunitas ini tak melulu sebatas kongko tapi beragam kegiatan sosial kerap dilakoninya.

“Kopdar itu penting untuk menjaga silaturahmi, bertukar pikiran hingga mengevaluasi kegiatan yang pernah kami jalani. Sesuai dengan visi dan misi kami, minimal sebulan sekali kami lakukan hal-hal yang sifatnya charity. Sehingga, kami berharap WCI, khususnya Regional Bekasi menjadi komunitas yang solid dan memberikan manfaat positif buat komunitas sendiri maupun di luar komunitas,” terang Andy.

Komunitas yang bersekretariat di kawasan Grand Wisata, Bekasi ini mengutamakan rasa kekeluargaan, persaudaraan dan solidaritas antar sesama. Hal ini sesuai dengan slogan WCI yaitu ‘We Are White, We Are Family’. “WCI memiliki visi dan misi yaitu klub otomotif yang cinta akan kekeluargaan, kedaulatan negara, lingkungan, peduli dengan sesama serta mencintai budaya dan kekayaan Indonesia,” jelasnya.

Bagi yang ingin bergabung dalam komunitas yang sudah terdaftar pada Ikatan Motor Indonesia (IMI) Jawa Barat dan Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia tahun 2011 ini, Andy mengatakan cukup registrasi dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp 250 ribu. “Yang paling utama memiliki mobil berwarna putih dengan merek apa saja dan memiliki SIM A,” pungkas pria kelahiran Bone, 14 Juni 1977. 

Cibubur > Komunitas

Stand Up Comedy Jakarta Timur, Komunitas Pengocok Perut

Senin, 29 Februari 2016 16:22 WIB
Editor : Andi MZ | Reporter : Budiyanto Rusli

Stand Up Comedy Jakarta Timur
Stand Up Comedy Jakarta Timur

Share this





Dengan anggota 35 orang, Stand up Comedy Jakarta Timur kerap menggelar open mic di kawasan Cibubur. Komunitas ini semula bernama Stand up Comedy Cibubur.

Komunitas - Stand up Comedy menjadi salah satu hiburan menarik. Bahkan ngebanyol di atas panggung ini berhasil mencuri perhatian publik di tengah banyaknya pilihan hiburan. Tak heran jika stasiun televisi swasta memiliki program lawakan tersebut dan disiarkan di frame time. Alhasil, berbagai komika populer lewat program Stand up Comedy.

Seiring populernya komedi, Iman, Aga, dan Fifik membentuk komunitas. Berdiri pada Oktober 2012, komunitas itu semula bernama Stand up Comedy Cibubur. Beberapa lama kemudian ganti nama menjadi Stand up Comedy Jakarta Timur. “Kami ganti nama karena peminatnya tak hanya dari Cibubur,” ujar Juliardi Proyoga, ketua komunitas tersebut.

Kini, Stand up Comedy Jakarta Timur memiliki anggota 35 orang. Kebanyakan anggotanya kaum pelajar. Komunitas ini rutin menggelar pertemuan setiap minggu di Manatree House Café, Jakarta Timur. Juliardi mengatakan, saat pertemuan, mereka memberikan pelatihan menggali dan menulis materi lawakan hingga teknik-teknik performance.

Selain latihan, tentunya mereka kerap tampil. Stand up Comedy Jakarta Timur kerap menggelar open mic di kawasan Cibubur. Antara lain di Studio Kenaya Cibubur dan Warung Miring. Ajang ini menjadi tempat berlatih sekaligus menyalurkan hobi. Meski sekadar iseng, penampilan mereka membuat penonton terpingkal-pingkal.

Sebagai komunitas komedian, hampir semua kegiatan Stand up Comedy dikemas dalam bentuk lawakan. Memperingati hari Pahlawan mereka menggelar battle comic. Pertunjukan ini berupa perang banyolan antara dua komika. Juliardi mengatakan di setiap hari besar  mereka selalu menggelar panggung stand up saat hari-hari besar.

Ada pula kegiatan yang tak bersinggungan dengan lawakan. Juliardi mengaku kerap ngumpul untuk bermain futsal. Tentunya, kegiatan olahraga ini dilakukan secara serius tanpa lawakan. Namun bagaimana saat istirahat bermain futsal? “Candaan mereka di pinggir lapangan tetap bikin ngakak.” 

Cibubur > Komunitas

​D’King Cibubur, Menyosialisasikan Tertib Lalu Lintas

Jumat, 05 Februari 2016 16:28 WIB
Editor : Andi MZ | Reporter : Wahyu

D?King Cibubur
D?King Cibubur

Share this





Selain kongko ringan, D’King Cibubur juga menggelar touring untuk sosialisasi tertib lalu lintas. Ingin menepis anggapan miring terhadap klub motor.

Komunitas - Yamaha RX King pernah populer di awal 1990-an. Kendaraan roda dua tak hanya ngacir di jalan, dandanannya juga tampil keren dan jantan. Bahkan, tak sedikit yang beranggapan pengendara RX King adalah pemuda macho sekaligus gaul. Itulah sebabnya, RX King menjadi pilihan anak muda gaul di masa itu.

Popularitas RX King kembali bersinar, setelah sempat meredup seiring hadirnya berbagai motor dengan model terkini. Pecinta RX King bahkan mendirikan komunitas. Salah satunya adalah D’King Cibubur. “Komunitas ini lahir sebagai wadah ngumpul-ngumpul,” tutur  Ananda Fathurrahman, Humas D’King Cibubur.

D’ King Cibubur berdiri 3 Juli 2015. Awalnya, komunitas ini memiliki anggota hanya  belasan orang. Sebulan kemudian bertambah menjadi 23 orang. Ananda mengungkapkan anggota D’King Cibubur kebanyakan warga Jalan Transyogie Cibubur dan berusia rata-rata di bawah 17 tahun atau usia sekolah.

Ananda mengatakan untuk bergabung di komunitas ini harus memiliki RX King dan mau mengikuti pertemuan, baik formal maupun informal. Di samping itu, setiap anggota wajib menjunjung tinggi rasa kekeluargaan. “Hal itu sesuai dengan tekad kami untuk menjaga kekompakan dalam menyalurkan hobi,” ujar Ananda.

Sebagai komunitas yang baru lahir, D’King belum memiliki agenda kegiatan formal. Namun mereka rutin menggelar pertemuan informal. Pertemuan sekadar kongko itu digelar dua kali sebulan di rumah anggota secara bergantian. Saat pertemuan itulah, mereka bertukar informasi tentang trend terbaru dari motor kesayangannya.

Selain kongko ringan, D’King juga kerap menggelar touring. Di ajang ini, mereka menyosialisasikan tertib lalu lintas. Ananda mengakui klub pecinta otomotif sering dianggap sebagai geng motor yang kerap bertindak ugal-ugalan di jalan. Bahkan kerap melakukan aksi kriminalitas. “Kami ingin menepis anggapan itu,” tuturnya.

Cibubur > Komunitas

Cileungsi Lowriders Cycle, Menjalin Persahabatan Lewat Gowes Bareng

Selasa, 29 Desember 2015 14:13 WIB
Editor : Andi M Zafrullah | Reporter : Wahyu Muntinanto

Cileungsi Lowriders Cycle
Cileungsi Lowriders Cycle

Share this





Gowes bareng menjadi agenda rutin Cileungsi Lowriders Cycle. Mempererat tali persaudaraan sekaligus kampanye bersepeda yang benar.

Komunitas - Dona Syafrudin, R, Sukandy dan Eja adalah tiga pemuda yang gemar mengenderai sepeda jenis lowrider. Hampir setiap akhir pekan, mereka berkeliling kawasan Cileungsi menunggang sepeda nyentrik tersebut. Dari kesamaan hobi itu, mereka kemudian mendirikan komunitas pecinta sepeda lowriders.

Cileungsi Lowriders Cycle demikian nama komunitas tersebut. Komunitas ini berdiri 12 Nopember 2013 dan menunjuk Dona Syafrudin sebagai ketua. “Kami mendirikan komunitas ini sebagai wadah untuk berinteraksi sekaligus mempererat tali persaudaraan antara sesama pecinta sepeda lowriders,” tuturnya.

Ketika pertama kali berdiri, jumlah anggotanya hanya beberapa orang. Setelah berjalan beberapa bulan, peminatnya bertambah. Kini, Cileungsi Lowrdiers Cycle memiliki 25 orang anggota. Kebanyakan dari mereka adalah anak muda, berusia 20 sampai 35, dari kawasan Cileungsi. Ada pula dari Cibubur, dan lain-lain. 

Cileungsi Lowriders Cycle mengusung motto ‘Berteman Tanpa Batas’. Komunitas ini memiliki kegiatan rutin gowes bareng setiap bulan. Mereka bersepeda mengelilingi Cileungsi hingga menyambangi Gunung Putri, Bogor, Puncak. Bahkan mereka rajin mengikuti car free day di Bundaran HI Jakarta.

Setiap Minggu sore, anak-anak muda itu kerap nongkrong di sekitar perumahan Metland Transyogi. Pertemuan informal itu sekadar kongkow ringan. Tentunya mereka lebih banyak membahas seputar sepeda. Tak jarang pula, di pertemuan itu lahir ide daerah mana yang akan disambangi saat gowes bareng  

Dona mengatakan gowes bareng bukan sekadar kegiatan fun, tapi juga memiliki misi sosial. Saat bersepeda, kata Dona, mereka menyosialisasikan tata cara mengendarai sepeda dengan benar. “Kami juga mengampanyekan pola hidup bersih dan memperjuangkan hak pengguna sepeda di jalan raya,” ujarnya.

Cibubur > Komunitas

​Tembang Indonesia Kenangan, Membangkitkan Semangat Lewat Tembang Lawas

Senin, 21 Desember 2015 15:16 WIB
Editor : Andi M Zafrullah | Reporter : Budiyanto Rusli

?Tembang Indonesia Kenangan
?Tembang Indonesia Kenangan

Share this





Tembang Indonesia Kenangan setiap bulan menggelar gathering untuk mempererat tali persaudaraan. Mereka juga memiliki seabrek kegiatan sosial.

Info Komunitas - Barang lawas selalu menyimpan kenangan. Begitupun dengan lagu-lagu. Irama tembang lawas masih terdengar begitu merdu dan tak kalah dengan lagu era sekarang. Bahkan sebagian orang memfavoritkan tembang era 1970-an itu. Karena itu pula, sekelompok orang membentuk komunitas dengan nama Tembang Indonesia Kenangan.

Tembang Indonesia Kenangan (TIK) berdiri 5 April 2010. Komunitas ini lahir dengan visi membangkitkan kenangan masa lalu menjadi spirit masa depan dan mengapresiai karya seni bidang seni musik. “Komunitas ini lahir untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus meningkatkan kepedulian sosial,” tutur Ardiansyah. DS. SS, Ketua Umum TIK.

Bang Jadoel, panggilan akrab Ardiansyah, menceritakan komunitas tersebut bermula dari jejaring sosial. Kemudian berlanjut ke duni nyata. Kini, anggota TIK beranggotakan sekitar 70 ribu orang yang tersebar di Cibubur, Bekasi, Depok, dan Tangerang. Ada pula dari Yogyakarta, Semarang, Solo, Lampung, Magelang, Bogor, Cilegon, hingga Hongkong.

Salah satu kegiatan rutin TIK mereka namai jumpa member dan galadinner. Di acara itu, berbagai anggota dari luar kota berkumpul. Pertemuan itu diisi dengan panggung hiburan, tentunya menghadirkan tembang-tembang lawas. “Galadinner itu menjadi ajang mempererat tali silturahmi,” tutur Bang Jadoel. Kegiatan ini digelar sekali sebulan.

Sejak berdiri, TIK telah dua kali menggelar gathering tingkat nasional yang mereka juluki sebagai Jambore Nasional. Jambore pertama digelar di Bandung, dan kedua di Semarang. Pada acara itu, hadir penyanyi senior seperti Sandro Tobing, Prof. Tjut Nyak Deviana, Obbie Mesakh, Endang S Taurina, Ratih Purwasih, dan lain-lain.   

Di luar kegiatan hura-hura, TIK juga memiliki seabrek kegiatan sosial. Misalnya pemberian bahan makanan kepada korban bencana seperti saat banjir dan letusan genung kelud. Mereka juga mengunjungi Panti Werdha Budi Mulia I Ciracas. Saat Banjarnegara ditempa bencana, mereka menggalang dana untuk korban bencana.

Cibubur > Komunitas

Cibubur Runners, Bukan Sekadar Lari Bareng

Rabu, 11 November 2015 14:45 WIB
Editor : Fauzi | Reporter : Budiyanto Rusli

Cibubur Runners
Cibubur Runners

Share this





Komunitas - Lari merupakan olahraga paling murah. Olahraga golongan atletik ini bisa dilakukan kapan dan di mana saja, tanpa membutuhkan biaya besar. Olahraga ini juga terbilang mudah dilakukan. Karena itu, banyak orang memilih lari sebagai olahraga rutin. Bahkan tak sedikit yang menjadikannya sebagai gaya hidup sehingga kian populer.

Kawasan Cibubur memiliki komunitas penggemar olahraga lari. Komunitas itu bernama Cibubur Runners. Berdiri pada 8 Oktober 2013, komunitas ini memiliki kegiatan rutin olahraga lari empat kali dalam sepekan. Lari pada Selasa malam diberi nama TUNR (Tuesday Night Run). Kegiatan pada Kamis malam disebut TNR (Thursday Night Run).

Untuk olahraga lari pada Sabtu dan Minggu digelar pagi dan malam hari. Kegiatan ini mereka namai Saturday and Sunday Morning Run (SSMR). Enos, kapten Cibubur Runners mengatakan kegiatan lari bareng Selasa dan Kamis malam dilakukan sekitar pukul 19.30. Sedangkan lari pada Sabtu dan Minggu pagi dimulai pukul 06.00.

Cibubur Runners berkumpul di Ruko Concordia Kota Wisata sebelum menggelar lari bareng. Dari titik kumpul itu, mereka mengelilingi komplek pemukiman Kota Wisata. “Biasanya kami berlari menempuh jarak 5 kilometer,” ujar Enos. “Namun untuk anggota baru, boleh saja menempuh jarak lebih pendek,” tambahnya. 

Cibubur Runners juga kerap menggelar trail run alias lari bersama di gunung. Beberapa anggotanya juga pernah mengikuti lomba lari hingga di luar negeri seperti di ajang Tokyo Marathon. “Kami bukan sekadar lari bareng. Tapi kami juga ngumpul untuk menggelar arisan, nonton bareng, hingga kunjungan ke panti sosial,” ujar Enos.

Cibubur Runners lahir dengan semboyan It’s Not Just Running Buddy, We’re a Family.  Enos menceritakan komunitas itu semula beranggotakan delapan warga Cibubur. Kini, anggotanya bertambah hingga melebihi 150 orang. Kebanyakan anggotanya berasal dari Kota Wisata, Citragran, Bukit Golf, Cileungsi, dan Arundina Cibubur. Ada pula dari Depok, Rawamangun, hingga warga negara Belgia.

Cibubur > Komunitas

Multi Ras Cibubur, Anak Muda Pecinta Musang

Jumat, 06 November 2015 15:26 WIB
Editor : Denny | Reporter : Bayu Erlangga

Multi Ras Cibubur
Multi Ras Cibubur

Share this





Info Komunitas - Empat pemuda Cibubur hobi memelihara musang. Meski kerap dipandang aneh, hari-hari mereka banyak diisi dengan bermain bersama binatang berekor panjang tersebut. Dari hobi itu, mereka kemudian membentuk komunitas dengan nama Multi Ras Cibubur. Komunitas ini terbentuk pada 6 Juni 2013. 

Prima Ajitomo, Ketua Multi Ras Cibubur, mengatakan komunitas tersebut terbentuk untuk menyosialisasikan hewan musang. “Binatang ini bukanlah hama dan tidak membahayakan. Musang bisa dipelihara layaknya bagian dari keluarga,” tutur Prima sembari mengelus binatang piaraannya.

Komunitas ini sempat vakum. Namun lama kelamaan, peminatnya semakin bertambah. Kini, Multi Ras Cibubur memiliki sekitar 25 anggota. Kegiatannya juga semakin padat. Setiap bulan, menggelar pertemuan semacam gathering. Tentunya mereka bertemu sambil membawa binatang kesayangannya.

Selain gathering, mereka juga menggelar kongko ringan setiap akhir pekan. Prima mengatakan pertemuan akhir pekan itu kerap dilakukan di kawasan Jambore Cibubur, Cibubur Junction hingga tempat pelatihan satwa. “Kami memiliki agenda pertemuan yang disebut Rabu Ngopi,” ujar Prima.

Prima mengatakan kongko akhir pekan bukan sekadar ngobrol ngalor-ngidul. Di pertemuan itu, kata Prima, mereka menyosialisasikan hewan kepada masyarakat. Tak jarang pula membahas tentang penyakit yang sering menyerang hewan peliharaan itu hingga cara pemberian asupan gizi.  

Multi Ras Cibubur berada di bawah naungan Rumah Musang Indonesia. Komunitas yang sebelumnya bernama Perkumpulan Pecinta Pelestari Musang Indonesia (P3MI) ini memiliki 70 region yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia seperti Bali, Palembang, Medan, Makasar, dan lain-lain.