Bogor > Profil

Disiplin dan Konsisten

Rabu, 19 Oktober 2016 16:32 WIB
Editor : Admin | Reporter : Ivan Dipiadi

Ranto M.
Ranto M.

Share this





“Tidak ada yang bilang mudah, tapi tak ada yang tidak mungkin”

Info Eksekutif - Semua hal dalam berbagai bidang pekerjaan pasti bisa dilakukan. Asal, pribadi yang bersangkutan memiliki disiplin dan konsisten terhadap pekerjaanya itu. Inilah yang dipercaya oleh seorang Ranto M. Ia yakin bahwa disiplin dan konsistensi akan mengantar seseorang pada puncak kesuksesan.

“Disiplin dan konsisten merupakan modal awal yang harus dimiliki oleh setiap orang. Dengan dua hal ini, seseorang dapat belajar, menumbuhkan minat dan tekad, hingga akhirnya mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik dan mewarnainya dengan kesuksesan,” ungkap Ranto.

Tentu bukan tanpa alasan jika pria 38 tahun ini menjunjung tinggi disiplin dan konsistensi. Pasalnya, property consultant yang juga menjabat sebagai Project Director The Avenue Residences ini telah merasakan manfaat dari kedua hal tersebut. “Dulu saya memang bukan siapa-siapa. Maka waktu itu saya harus memulai semua usaha dari awal. Disiplin dan konsisten dalam belajar, bekerja, serta berkarya lah yang kemudian mengantarkan saya pada posisi saat ini,” bebernya.

Kini, kedua hal tersebut tak hanya berpartisipasi dalam kesuksesan yang diraih Ranto. Tapi, siakap disipilin dan konsisten yang dimilikinya juga telah memberinya kesempatan untuk mengembangkan karier serta usahanya. Makanya, agar terus bisa meraih dan mempertahankan kesuksesannya itu, ia pun tak pelit untuk membagi prinsipnya kepada rekan kerja dan karyawannya.

“Tidak ada yang bilang bakal berjalan mudah. Tapi, tak ada hal yang tidak mungkin. Maka itu, saya selalu percaya dan optimis dalam meniti karier dan usaha. Jika kita berpegang teguh pada disiplin dan kosnsistensi, maka bukan tidak mungkin kita bertemu dengan kesuksesan,” kata Ranto mengispirasi.

Bogor > Profil

Astika Kumala Sari, Operational Manager Sosis Bakar 8

Kamis, 25 Februari 2016 14:05 WIB
Editor : Ivan Dipiadi | Reporter : Jefri Orianta

Astika Kumala Sari
Astika Kumala Sari

Share this





Sedari SMA, Astika Kumala Sari sudah memiliki keinginan besar untuk bekerja. Perempuan yang akrab disapa Ala ini beralasan, dengan bekerja ia bisa membantu perekonomian keluarga dan mencukupi berbagai kebutuhan dirinya secara mandiri. Maka selepas SMA, tanpa buang waktu Ala langsung mengejar impiannya. Berbagai profesi pun ia tekuni hingga akhirnya ia dipercaya untuk menduduki jabatan sebagai operational manager seperti sekarang.

“Saya mengawali dunia kerja dengan menjadi sales promotion girl. Tak lama berselang, saya bekerja sebagai seorang sales marketing sepeda motor. Cukup lama berkecimpung di sana, akhirnya saya diminta untuk mengisi jabatan sebagai manajer marketing di McDonald,” perempuan kelahiran Bogor, 13 Agustus 1990 itu menceritakan perjalanan kariernya.

Hanya perlu waktu lima tahun bagi seorang Ala untuk mencapai posisi operational manager seperti sekarang. Ala mengungkapkan, semua itu bisa didapat karena ia menerapkan sikap sabar dan sungguh-sungguh dalam menjalani berbagai pekerjaan. “Disiplin dan kesabaran yang tak berbatas diperlukan demi mencapai hasil yang maksimal. Jangan pernah menyerah pada keadaan. Sebab jika kita menyerah, kita justru melangkah mundur dan makin jauh dari impian,” tutupnya.

Bogor > Profil

Hafidin Fajar, Jeli Melihat Peluang

Kamis, 25 Februari 2016 11:12 WIB
Editor : Ivan Dipiadi | Reporter : Ivan Dipiadi

Hafidin Fajar
Hafidin Fajar

Share this





“Jangan banyak pertimbangan, tapi lakukan dengan perhitungan”

Ide bisnis bisa datang dari mana saja. Inilah yang dipahami Hafidin, pengusaha muda asal Kota Hujan. Buktinya ia bersama tiga orang temannya berhasil mendirikan dan mengembangkan bisnis kuliner. Padahal, Hafidin mengaku ide binsnisnya itu muncul secara tidak sengaja saat ia dan teman-temannya melihat tempat strategis yang tidak produktif.

“Peluang itu bisa diciptakan. Kita tidak perlu melakukan banyak pertimbangan sebelum membuka usaha. Tapi, kita hanya perlu bergerak dengan perhitungan. Usaha yang saya lakukan bersama teman-teman ini merupakan hasil perhitungan. Sedangkan peluangnya kita ciptakan dari ide saat melihat tempat kosong di lokasi strategis, dan juga kebiasaan anak muda yang menjadikan hang out sebagai kebutuhan,” terang pemilik Time Out Cafe tersebut.

Time Out Cafe bukanlah satu-satunya bukti dari keyakinan Hafidin terhadap pemahamannya soal ide bisnis. Pria kelahiran Bogor, 7 Juni 1989 ini juga berhasil mendirikan usaha penyewaan lapangan futsal. Diakuinya, ide untuk menekuni usaha di bidang olahraga itu lahir dari hobinya yang memang gemar bermain futsal.

“Sebagai pengusaha, kita dituntut untuk jeli melihat prospek dan memanfaatkan setiap peluang yang ada. Soal hambatan dan kendala dalam menekuni usaha, itu sudah pasti ada. Tinggal, kita menentukan bagaimana cara mengatasi dan menjawab setiap tantangan dengan inovasi yang kita ciptakan,” imbuh Hafidin.

Dilihat dari langkah dan pemikirannya, pria yang mengaku gemar makan masakan Sunda ini memang bukan seorang entrepreneur biasa. Maklum, bungsu dari tiga bersaudara itu mewarisi darah wirausaha dari kedua orang tua. Selain itu, pendidikan manajemen bisnis di Institut Manajemen Telkom (IMT) juga berkontribusi cukup besar terhadap kesuksesannya saat ini. Kendati demikian, Hafidin mengaku ada hal lain yang telah membuat dirinya meraih cita-cita di usia muda.

 

“Pengalaman dan kegagalan, itulah yang membuat kita lebih kuat dari sebelumnya. Jadikan setiap kegagalan sebagai pembelajaran, dan jadikan setiap pengalaman sebagai bekal untuk berinovasi. Sebab, kita tidak pernah tahu apa tantangan bisnis kita ke depan. Dengan bekal inovasi, setidaknya kita siap menghadapi tantangan dan persaingan bisnis yang ada,” pungkasnya.

Bogor > Profil

Muhammad Wahyudin, Keterbatasan Fisik Bukan Halangan

Kamis, 25 Februari 2016 10:57 WIB
Editor : Jefri Orianta | Reporter : Ivan Dipiadi

Muhammad Wahyudin
Muhammad Wahyudin

Share this





Ketidaksempurnaan fisik bukan alasan untuk berdiam diri meratapi keadaan. Sebab meski memiliki tubuh yang tidak sempurna, hakekat setiap manusia tetap sama. Yakni harus berbuat baik, berprestasi, dan bermanfaat bagi orang lain. Itulah yang diyakini Muhammad Wahyudin. Keterbatasan fisik tak menghambatnya menjalani kehidupan. Justru, pria ini mampu meraih prestasi lebih dari orang yang memiliki tubuh sempurna pada umumnya.

Wahyudin merupakan ketua National Paralympic Committe Indonesia (NPCI) Kota Bogor. Ia dipercaya menduduki jabatan tersebut selama dua periode, yakni periode 2010-2015, dan 2015-2020. Hal ini bisa terjadi karena banyak orang percaya pada kemampuan yang dimiliki Wahyudin. Terlebih, pria kelahiran Bogor, 19 Desember 1971 ini juga telah berhasil membawa banyak atlet paralympic Kota Bogor meraih berbagai prestasi di sejumlah cabang olahraga.

“Mungkin akan sulit bagi orang biasa memberi semangat bagi kami para penyandang disabilitas. Tapi jika hal tersebut dilakukan oleh sesama penyandang disabilitas yang memiliki kesamaan pandangan, harapan, dan pengalaman, itu bisa lebih dimengerti dan diterima. Maka itu, saya berkomitmen terus membawa para atlet meraih juara di berbagai bidang. Sebab selain berpotensi, saya juga paham bahwa jauh di dalam diri mereka memiliki keinginan yang sama dengan orang normal pada umumnya,” ungkap Wahyudin.

Melalui lembaga yang dipimpinnya saat ini, Wahyudin juga ingin memberi contoh pada para penyandang disabilitas lainnya. Secara tidak langsung, melalui NPCI ia menggambarkan bahwa setiap keinginan yang dibarengi dengan usaha dan kerja keras, akan menghasilkan sesuatu yang lebih dari apa yang diharapkan.

“Jangan putus asa, apapun alasannya. Bukan berarti kita yang hidup dengan alat bantu dan bantuan orang lain tidak bisa melakukan hal yang sama. Kita harus tetap bermanfaat bagi orang lain. Kita harus terus menggali potensi yang ada dalam diri. Ini perlu agar kita para penyandang disabilitas bisa sebanding, atau bahkan lebih maju dari orang normal pada umumnya. Makanya, mulai dari sekarang bangunlah rasa percaya diri, mulai bersosialisasi, kejar cita-cita, dan pertahankan rasa sabar dalam diri,” tegasnya untuk memberi semangat kepada para penyandang disabilitas di Kota Bogor dan sekitarnya.

Bogor > Profil

Muhammad Rhosuli Umar, Sinergi Hobi dan Bisnis

Jumat, 20 November 2015 15:57 WIB
Editor : Ivan Dipiadi | Reporter : Jefri Orianta

Muhammad Rhosuli Umar
Muhammad Rhosuli Umar

Share this





“Kesuksesan itu jika usaha yang dijalani mecapai tujuan yang diharapkan”

Bagi sebagian orang, hobi bisa menjadi bisnis yang menjanjikan masa depan. Tapi ada pula yang terpaksa meninggalkan hobi karena harus mengurus bisnis yang dijalaninya. Namun bagi Muhammad Rhosuli Umar, hal seperti ini tidak perlu terjadi. Pasalnya, pria yang akrab disapa Nino ini sukses menyinergikan hobi dengan bisnis sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, bahkan menguntungkan.

“Awalnya saya memang suka ngopi. Kemudian, saya jadi penghobi kopi dan mendalami berbagai macam hal serta seluk-beluk mengenai minuman yang satu ini. Dari situ, saya memahami bagaimana cara meracik, roasting, jenis, varian, bahkan hingga olahan kopi. Melalui hobi ini, ide untuk membuka kedai kopi pun mucul dan akhirnya terwujud seperti sekarang,” kata Nino saat mulai menceritakan perjalanan bisnisnya.

Diakui Nino, tidak ada cara khusus yang ia terapkan untuk bisa menyinergikan hobi dengan bisnis. Bahkan untuk mewujudkan bentuk dari sinergi tersebut, ia mengaku hanya mengajak beberapa orang temannya untuk menanam modal. Dengan bekal keterampilannya, pria yang lahir pada 26 April 1983 ini turun langsung dan bertindak sebagai barista.

“Bagi saya, kesuksesan bukan diukur dari ramai, sepi, kecil, atau besarnya usaha yang kita jalankan. Akan tetapi, bagaimana menjalani sebuah pekerjaan yang kita sukai, dan mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan, itu baru sebuah kesuksesan. Maka kesuksesan yang sebenarnya sukses adalah ketika kita menjalaninya dengan nyaman dan tenang,” tegas pria yang tergabung dalam Indonesia Latte Art Artist (ILAA) tersebut.

Berbekal kecintaannya terhadap kopi, pendidikan di bidang manajemen bisnis, dan kemauan yang kuat untuk berwirausaha, Nino sukses mengembangkan Ide Kopi, yakni kedai kopi yang ia bangun bersama beberapa orang temannya.

Kian hari, kedai kopinya juga makin ramai pengunjung karena inovasi yang rutin dihadirkan Nino bersama rekan bisnis serta karyawannya. “Saat usaha telah kita lakukan dan kita juga telah berupaya memberikan yang terbaik untuk itu, maka hal yang perlu kita lakukan adalah berdoa dan ibadah. Be the best, and leave the rest to Allah. Itu kuncinya,” tutup Nino.

 

Bogor > Profil

Teddi Sofyan, Ikhlas dan Fokus Dalam Bekerja

Jumat, 20 November 2015 15:50 WIB
Editor : Ivan Dipiadi | Reporter : Jefri Orianta

Teddi Sofyan, Ikhlas dan Fokus Dalam Bekerja
Teddi Sofyan, Ikhlas dan Fokus Dalam Bekerja

Share this





“Kerja keras dan displin membuat kita sukses”

Pekerja keras dan selalu memanfatkan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat, itulah yang melekat pada diri Teddy Sofyan. Kedisplinan yang Ia jalankan telah mengubah eksekutif di Bumi Tapos Resort ini menjadi pribadi yang tekun dalam bekerja. Industri perhotelan menjadi bidang yang dipilih Teddy karena Ia mengaku memiliki passion dalam hal ini.

Karier di hospitality industry dirintis Teddy sejak puluhan tahun silam, tepatnya mulai 1991 atau tiga tahun pasca lulus dari Jurusan Perhotelan di Universitas Trisakti. Dalam menjalani karier, Ia merangkak dari jabatan yang paling bawah. Setelahnya, Teddy sempat pindah ke bagian front office sebagai recepsionist. “Satu setengah tahun jadi receptionist, saya diangkat menjadi reception supervisor dan kemudian naik menjadi senior sales manager,” cerita Teddy kala memulai karirnya di salah satu hotel yang ada Lampung pada saat itu.

Setelah malang-melintang ke beberapa hotel and resort, kini Teddy bergabung dengan Bumi Tapos Resort dan menduduki tanggung jawab sebagai general manager. Pria kelahiran Bogor, 16 Juli 1966 ini mengaku, kesetiaannya pada industri perhotelan dikarenakan Ia mendapat banyak manfaat dalam pekerjaannya itu. Dari banyaknya manfaat tersebut, salah satu hal yang paling disukainya adalah bisa bertemu banyak orang dan mempelajari setiap karakter mereka.

Kini, lebih dari 20 tahun Teddy menekuni pekerjaan di industri perhotelan. Kendati demikian, Ia tidak pernah merasa bosan. Malah, Teddy mengaku semakin tertantang untuk terus berkreasi membangun citra baik hotel dan resort yang ada di indonesia. “Kita harus melakukan segala sesuatunya dengan baik, dan selalu mempunyai inovasi demi meningkatkan kualitas perhotelan yang kita pimpin,”jelasnya.

Sebagai seorang general manager, Teddy selalu mengarahkan setiap anggota timnya agar memberi pelayanan maksimal kepada setiap tamu yang datang. Sebab menurutnya, kepuasan melebihi standar yang dirasakan para tamunya merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa. “Saya selalu mengarahkan agar karyawan bisa membuat pengunjung merasa puas. Baik itu dari segi pelayanan, tempat, makanan, dan sebagainya. Dengan cara ini, saya berharap Bumi Tapos Resort dapat terus eksis dan menjadi primadona hotel di kelasnya,” pugkas Teddy.

Bogor > Profil

Yunati Alinda, Public & Media Relation Cibinong City Mall

Jumat, 20 November 2015 15:46 WIB
Editor : Ivan Dipiadi | Reporter : Jefri Orianta

Yunati Alinda
Yunati Alinda

Share this





Wawasan, confidence, networking, dan sikap humble merupakan hal terpenting bagi seorang Yunati Alinda dalam menjalankan profesinya sebagai seorang public & media relation. Ia pun bilang, beberapa hal tersebut tidak hanya bermanfaat untuk menunjang pekerjaan, tapi juga berdampak baik pada kehidupan pribadinya.

“Seorang PR berhubungan langsung dengan masyarakat dan media. Jadi selain harus pintar dalam berkomunikasi, kita juga harus humble agar memiliki banyak relasi. Hal ini juga bermanfaat bagi kehidupan pribadi karena tanpa sadar saya menerapkan hal ini dalam kehidupan sehari-hari,” terang perempuan yang akrab disapa Yuna tersebut.

Lulusan Sastra Inggris Universitas Pakuan Bogor ini juga menjelaskan, agar bisa sukses di kariernya saat ini, Ia menerapkan metode bekerja dengan senang dan selalu berpikir positif. “Always be positive, itu yang harus selalu ditanamkan dalam diri kita. Sebab, jika pembawaannya sudah negatif, maka pikiran sampai tindakan juga akan ikut negatif,” tutup ibu dua anak ini.

Bogor > Profil

Anton Sujarwo, Captain Area Vamilk Resto

Jumat, 20 November 2015 15:42 WIB
Editor : Ivan Dipiadi | Reporter : Jefri Orianta

Anton Sujarwo
Anton Sujarwo

Share this





Bagi pria kelahiran Malang, 26 febuari 1981 ini, bidang kuliner merupakan sebuah dunia yang penuh dengan kegembiraan dan juga tantangan. Sebab di bidang ini, Ia bisa bebas berkreasi membuat sebuah menu yang enak untuk disajikan kepada pengunjung. Alhasil, kecintaannya pada dunia kuliner mengantar Anton pada posisinya sekarang, yakni sebagai captain area di Vamilk Resto, Bogor.

Ayah tiga anak ini mengaku, bekerja di bidang kuliner sama halnya dengan memasak sebuah makanan. “Jika salah langkah, maka bisa rusak semua. Sama halnya ketika kita memasak. Salah resep, maka makanan tersebut pasti gagal,” ujarnya. Maka itu, lanjut Anton, diperlukan pengetahuan, sikap tegas, serta tanggung jawab yang tinggi dalam menekuni profesi ini. “Dari kecil orang tua saya saudah mengajarkankan tanggung jawab  serta mendidik saya untuk jadi pemimpin yang baik,” imbuhnya.

Dalam menjalankan pekerjaan, pria lulusan Berlian Tourism Institute (BTI) ini selalu menekankan sikap dispin dan kerja keras. Sebab menurutnya, dua hal tersebut merupakan kunci sukses dalam setiap pekerjaan. “Semua yang kita inginkan akan tercapai kalau kita mau bekerja keras dan serius dalam mencapai suatu tujuan,” tutupnya.

Bagi pria kelahiran Malang, 26 febuari 1981 ini, bidang kuliner merupakan sebuah dunia yang penuh dengan kegembiraan dan juga tantangan. Sebab di bidang ini, Ia bisa bebas berkreasi membuat sebuah menu yang enak untuk disajikan kepada pengunjung. Alhasil, kecintaannya pada dunia kuliner mengantar Anton pada posisinya sekarang, yakni sebagai captain area di Vamilk Resto, Bogor.

Ayah tiga anak ini mengaku, bekerja di bidang kuliner sama halnya dengan memasak sebuah makanan. “Jika salah langkah, maka bisa rusak semua. Sama halnya ketika kita memasak. Salah resep, maka makanan tersebut pasti gagal,” ujarnya. Maka itu, lanjut Anton, diperlukan pengetahuan, sikap tegas, serta tanggung jawab yang tinggi dalam menekuni profesi ini. “Dari kecil orang tua saya saudah mengajarkankan tanggung jawab  serta mendidik saya untuk jadi pemimpin yang baik,” imbuhnya.

Dalam menjalankan pekerjaan, pria lulusan Berlian Tourism Institute (BTI) ini selalu menekankan sikap dispin dan kerja keras. Sebab menurutnya, dua hal tersebut merupakan kunci sukses dalam setiap pekerjaan. “Semua yang kita inginkan akan tercapai kalau kita mau bekerja keras dan serius dalam mencapai suatu tujuan,” tutupnya.

 

Bogor > Profil

Dr. H. Bima Arya Sugiarto, Wali Kota Bogor

Jumat, 20 November 2015 15:32 WIB
Editor : Ivan Dipiadi | Reporter : Jefri Orianta

Dr. H. Bima Arya Sugiarto
Dr. H. Bima Arya Sugiarto

Share this





Murah senyum, sederhana, santai, itulah sedikit gambaran yang melekat pada diri pria kelahiran Bogor, 17 Desember 1972 ini. Dengan penampilan dan pembawaan seperti itu, Bima mampu menjalankan tugas sebagai Wali Kota Bogor yang diamanatkan kepadanya sejak 7 April 2014 silam. Sebab baginya, penampilan bukanlah hal utama. Ada hal yang lebih penting dan harus diperhatikan oleh setiap pemimpin dalam menjalankan tugasnya.

“Harus punya jiwa pemimpin dan ingin berguna bagi orang lain, inilah yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Ini penting karena setiap pemimpin harus bisa mengakomodir keinginan warganya dan bijak dalam setiap pengambilan keputusan,” ucap Bima.

Lahir sebagai anak dari seorang perwira polisi Brigjen Polisi Drs Toni Sugiarto, tentunya Bima telah mewarisi jiwa pemimpin yang baik dari ayahnya. Bahkan ia juga mengaku, sejak kecil orangtuanya telah mengajarkan prinsip-prinsip hidup yang baik. Salah satunya adalah hidup yang bermanfaat dan mempunyai arti bagi orang lain.

“Dari kecil, saya selalu diajarkan untuk berbuat baik sehingga bermanfaat untuk orang lain. Orang tua saya juga selalu bilang bahwa hidup bukanlah mengejar materi semata. Maka dari itu, dari kecil saya punya cita-cita untuk menjadi sesuatu yang berguna bagi banyak orang,” tambah pria yang hobi berpetualang ini.

Kini, sikap dan cita-cita masa kecil itu telah mengantar Bima menjadi pemimpin yang baik. Buktinya, kepemimpinan ayah dua anak itu diakui oleh warganya. Selain itu, berbagai program yang telah ia rencanakan juga berjalan dengan lancar. Padahal, pemimpin yang akrab disapa Kang Bima oleh rakyatnya ini belum genap dua tahun memimpin Kota Bogor.

Dalam menjalankan tugas, Bima mengaku dirinya menemui banyak hal, kendala, bahkan harus melakukan banyak pertimbangan sebelum mengambil keputusan dan menjalankan program. Sebab, kata Bima, setiap keputusan pasti akan menghasilkan kebijakan yang bisa jadi berbenturan dengan keinginan khlayak.

“Maka itu, dalam memimpin dan mengambil keputusan, saya selalu berpatokan pada konsep dan hasil yang ingin dicapai ke depannya. Dengan begitu, setiap program yang dijalankan pasti bisa memuaskan masyarakat, meski awalnya diwarnai oleh beragam respon,” ungkapnya.

Saat ditanya mengenai konsep dan hasil apa yang ingin dicapainya, suami dari Yane Ardian ini dengan tegas mengatakan bahwa ia ingin melihat Kota Bogor sebagai kota yang nyaman. “Ibarat rumah, maka saya ingin Kota Bogor itu dihuni oleh keluarga bahagia, penuh cinta, dan cita-cita. Jika hasil ini telah dicapai, maka Kota Bogor akan memiliki warga yang saling menyayangi, menjaga, dan rasa optimis untuk menggapai cita-cita,” katanya.

Guna menwujudkan hal tersebut, doktor ilmu politik dari Australian National University, Canberra, Australia ini membuat beberapa program. Salah satu yang paling terkenal adalah program sejuta taman. Menurut Bima, taman merupakan elemen penting dalam memberi kesan nyaman. “Saya akan berjuang sampai ujung jabatan saya untuk menjadikan Kota Bogor sebagai kota taman, kota hijau, dan kota yang nyaman untuk semua,” ujarnya dengan optimis.

Untuk menambah kenyamanan yang dimiliki Kota Bogor, Bima juga melakukan terobosan dalam hal transportasi. Sebab Ia menganggap, saat ini transportasi di Kota Bogor belum tertata rapi sehingga menyulitkan warga dan masyarakat yang datang dari luar Bogor. Di samping itu, banyaknya jumlah angkutan kota yang beroperasi juga kerap kali menimbulkan kemacetan sehingga membuat Kota Hujan ini tidak nyaman. “Dalam hal ini saya memperkenalkan konsep Bogor Bus Intelligent Transport System (BoBITS). Rencanannya system BoBITS ini akan mulai berjalan tahun depan. Perencanaan sistem ini harus dibuat secara matang dan kemudian dieksekusi secara bertahap,” tambahnya.

Selain melalui program, upaya untuk menjadikan Kota Bogor sebagai kota yang nyaman juga dilakukan Bima dengan cara memberi contoh secara langsung kepada warganya. Hal tersebut dilakukan karena ayah dari Kinaura Maisha dan Kenatra Mahesa ini sadar bahwa pemimpin adalah seorang panutan dan contoh bagi rakyatnya. “Untuk menjadikan Kota Bogor sebagai kota yang nyaman, ada beberapa hal yang tidak bisa kita terapkan melalui program. Seperti dalam pengembangan keluarga misalnya. Kita tidak bisa mengajarkan nilai kehidupan, cara membangun keluarga, dan cara mendidik anak melalui program pemerintah. Maka itu, sebagai pemimpin hal ini perlu kita contohkan secara langsung kepada masyarakat,” ucap Bima.

Berperan sebagai panutan dalam memberi contoh yang baik kepada warga tentu bukan hal sulit bagi seorang Bima Arya. Pasalnya, sikap cinta terhadap keluarga memang telah ia miliki dan diterapkan dengan sepenuh hati. “Family is everything and is your heaven,” katanya. Bahkan dikatakan juga, waktu yang paling menyenangkan adalah ketika berkumpul bersama keluarga.

“Keluarga dan dunia kerja merupakan dua dunia yang saling mendukung. Saya tidak pernah membagi waktu khusus untuk kerja atau keluarga. Tapi setiap ada kesempatan, saya selalu bersama mereka. Mengantar anak sekolah sebelum berangkat kerja, atau bahkan membawa keluarga saat bertugas sering saya lakukan karena tidak mau kehilangan waktu berharga dengan mereka,” terang politisi PAN tersebut.

Menikah sejak 2002, sampai saat ini kerukunan keluarganya tetap terjaga dengan baik, bahkan semakin baik dari hari ke hari. Beliau bilang, kunci paling utama dalam menjaga keharmonisan keluarga adalah dengan cara mensyukuri apa yang telah diberi Tuhan Yang Maha Esa . “Sebab jika kita mencari kesempurnaan itu tidak aka nada habisnya,” jelasnya seraya menegaskan bahwa berupaya untuk terus memperbaiki diri adalah bagian dari rasa syukur atas hasil yang telah kita capai sejauh ini.

Dengan memberi contoh seperti itu, Bima ingin warga Kota Bogor juga bersyukur. Sebab selain bisa meningkatkan ketaatan sebagai umat beragama, rasa syukur juga sesuai dengan pepatah atau semboyan Kota Bogor yang berbunyi ‘Dinu kiwari ngancik nu bihari, seja ayeuna sampeureun jaga. “Artinya kita menikmati apa yang telah diperjuangkan dan dilakukan oleh sesepuh kita. Maka itu, kita harus melakukan yang terbaik juga. Sebab apa yang kita lakukan sekarang akan menentukan masa depan anak cucu kita nantinya. Mari kita jadikan Kota Bogor ini sebagai kota kebanggan bagi kita semua,” pungkasnya.

Bogor > Profil

Jejen Sukrilah Sanusi, Ketua Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama Kota Bogor

Kamis, 05 November 2015 15:08 WIB
Editor : Ivan Dipiadi | Reporter : Jefri Orianta

Jejen Sukrilah Sanusi
Jejen Sukrilah Sanusi

Share this





Menjadi seorang pemimpin tidak cukup hanya bermodalkan pengetahuan dan pengalaman. Keramahtamahan kepada setiap orang tetap menjadi kunci utama untuk bisa sukses menjadi pemimpin. Hal inilah yang menjadi landasan berpikir Jejen Sukrilah Sanusi. Hingga akhirnya, sikap ramah yang Ia terapkan mengantarnya menjadi Ketua Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU) Kota Bogor.

Bagi Jejen, menjabat sebagai seorang pemimpin berarti menjadi sosok atau panutan. Maka itu, jika sosok tersebut berangkat dari pribadi yang baik, berarti akan menghasilkan pemimpin dan follower yang baik pula. “Bukan jabatannya, tapi yang penting adalah pribadi dari pemimpin tersebut. Anak - anak muda saat ini adalah calon tokoh dan pemimpin di masa depan. Maka alangkah baiknya jika kita sebagai panutan memberi contoh yang baik agar melahirkan pemimpin yang baik kelak,” terang lulusan Magister Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Sebelum dilantik menjadi ketua pada 2013 silam, Jejen merupakan orang yang gemar berorganisasi. Bahkan pada saat duduk di bangku SMP dan SMA Ia pernah menjabat sebagai ketua OSIS. Kegemaran berorganisasi itu kemudian berlanjut saat Jejen menjadi mahasiswa. Jabatan sebagai Ketua BEM juga sempat Ia emban kala itu. Setelah itu, Jejen kemudian bergabung dengan IPNU dan menjadi bagian dari pengurus IPNU Pusat, IPNU Jawa Barat, dan Ketua IPNU Kota Bogor seperti sekarang. “Berorganisasi membuat saya mendapatkan ilmu baru, memperluas relasi, bahkan mendapatkan rezeki,” paparnya

Dalam mengemban jabatannya sekarang, Jejen membuat sejumlah program yang bermanfaat untuk pengembangan sumber daya manusia. “IPNU Kota Bogor kini berupaya memfasilitasi para pelajar melalui beragam kegiatan seperti diskusi, pelatihan - pelatihan, perfilman, organisasi, dan aktivitas lapangan. Hal tersebut bertujuan untuk menunjang pontensi atau bakat para pelajar dan mahasiswa di Kota Bogor,” tambahnya.

Selain aktif di organisasi, pria kelahiran Bogor, 28 Mei 1988, ini juga aktif di bidang pendidikan. Jejen yang berstatus sebagai dosen di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STIKP) Kusuma Negara ini juga mengajar sebagai guru SMP. Dalam mengajar murid - muridnya, Ia selalu menegaskan bahwa seorang pemuda harus berkembang dan jangan menutup diri dari perkembangan yang ada. “Kita harus menjaga tradisi lama yang baik, dan mengambil segala sesuatu yang baru yang memang lebih baik. Jadi tidak menutup diri dari perkembangan zaman, tapi tidak meninggalkan tradisi lama yang memang sudah baik dan sudah dijalankan,” ungkapnya optimis.

Bogor > Profil

Joko Andi Priyanto, Store Manager Tako Suki Restaurant

Kamis, 05 November 2015 15:01 WIB
Editor : Ivan Dipiadi | Reporter : Jefri Orianta

Joko Andi Priyanto
Joko Andi Priyanto

Share this





Bagi pria kelahiran Jakarta (22 Juni 1979) ini, kunci sukses adalah bekerja dengan tekun dan konsisten atas apa yang dikerjakan serta menjadi kewajibannya. Maka itu, kala mengawali karier sebagai seorang pencuci piring di sebuah restoran pada 1998 silam, Joko bekerja dengan sepnuh hati. Hingga akhirnya, kini Ia memetik buah kerja kerasnya dan dipercaya untuk memegang jabatan sebagai store manager di sebuah cabang restoran. 

“Sebagai seorang store manager, semua yang berhubungan dengan restoran adalah tanggung jawab saya. Mulai dari mengawasi kinerja tim restoran, manajemen restoran, hingga mendorong penjualan melalui pemasaran.” ungkapnya. Sebelum melakukan kontrol terhadap seluruh kinerja dan operasional restoran, Joko lebih dulu mendekatkan diri kepada setiap orang di lingkungan kerjanya. Sistem kekeluargaan juga Ia terapkan agar semua karyawan merasa nyaman berada di bawah komandonya.

Selain itu, lanjut Joko, dengan sistem kekeluargaan yang diterapkan Ia juga bisa memahami karakter dari masing - masing karyawannya. “Kami di sini saling mendukung satu sama lain, saling memberikan support dalam segala hal. Saya tidak ingin ada kesenjangan antara atasan dan bawahan di tempat saya bekerja,” tutup ayah dua anak ini.