Bogor > Laporan Utama

Jalan Panjang Menuju Reformasi Angkutan Kota Bogor

Sabtu, 01 Juli 2017 13:53 WIB
Editor : Ivan | Reporter : Ivan Dipiadi

Kemacetan yang didominasi oleh angkot Bogor
Kemacetan yang didominasi oleh angkot Bogor
Foto : istimewa

Share this








Kota Bogor pernah mendapat predikat sebagai salah satu kota termacet di dunia. Program Reformasi Angkutan Kota pun dibuat.

BOGOR - Pemkot Bogor sadar bahwa salah satu penyebab utama kemacetan adalah ketimpangan antara jumlah kendaraan dan ruas jalan yang tersedia. Namun karena dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menambah dan mengembangkan infrastruktur jalan, mereka menyaipakan program jangka pendek yang manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat.  Program tersebut adalah reformasi angkutan kota (angkot).                                               

DLLAJ Kota Bogor yang bertanggung jawab atas angkot pun menjelaskan, reformasi moda transportasi umum ini diperlukan guna mengentaskan masalah kemacetan di Kota Hujan.

“Angkot jadi penyebab macet ketika mereka tidak tertib di jalan. Makanya, kami beserta pemerintah dan kepolisian Kota Bogor ingin melakukan reformasi terhadap angkot. Salah satunya adalah dengan melakukan penertiban angkot di jalanan,” jelas Rakhmawati, Kepala DLLAJ Kota Bogor.

Selain penertiban melalui program reformasi  angkutan kota, DLLAJ juga akan melakukan rerouting trayek angkot. Namun sebelumnya, dinas teknis ini berkeinginan untuk membuat semua anggkot yang beroperasi berbadan hukum. Hal ini penting agar program-program yang dibuat bisa berjalan dengan mudah.

“Sekarang hanya sekitar 25 angkot yang belumberbadan hukum. Jadi tinggal sedikit lagi rerouting angkot bisa dilakukan,” imbuhnya.

Di samping masalah ketertiban, sebagian besar masyarakat Jabodetabek pun tahu bahwa Kota Bogor memiliki jumlah angkot yang terlalu banyak. Bahkan karena hal ini, Kota Bogor memiliki julukan kota angkot. Maka selain melakukan penertiban dan rerouting angkot, pemerintah dan DLLAJ Kota Bogor juga berencana melakukan konversi angkot.

“Ini merupakan pengembangan koridor Sistem Sarana Angkutan Umum Massal (SAUM) dengan mengonversi tiga angkot menjadi satu bus, dan tiga angkot menjadi dua angkot besar,” papar Rakhmawati.

Guna tercapainya program tersebut, pemerintah dan DLLAJ Kota Bogor kini tengah menyiapkan tujuh jalur koridor utama TransPakuan, yakni bus resmi milik BUMD kota Bogor.

“Nantinya akan ada 162 bus. Di samping itu kami juga akan menyediakan bus untuk anak sekolah. Jumlah angkot yang menyusut dengan program ini diharapkan bisa mengurangi kepadatan lalu lintas di kota Bogor,” lanjut perempuan berkerudung tersebut.

Saat ditanya mengenai nasib para sopir angkot yang armadanya bakal dihilangkan karena konversi, lulusan STPDN tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya program ini menguntungkan para sopir. Pasalnya, nantinya para supir tidak perlu lagi memikirkan setoran.

“Kami akan berdayakan mereka dalam operasional TransPakuan. Kami pun akan berlakukan sistem gaji untuk mereka. Jadi tidak ada lagi alasan mereka untuk ngetem mencari penumpang guna mengejar setoran,” pungkasnya.