Bekasi > Profil

Leokwin Frederick, Dokter Bedah Penyuka Teknologi Kedokteran

Rabu, 04 Oktober 2017 19:43 WIB
Editor : Fauzi | Reporter : Yusuf Bachtiar

dr. Loekwin Frederick
dr. Loekwin Frederick, Sp.B
Foto : Yusuf Bachtiar

Share this








Sebagai dokter bedah dengan beragam pengalaman, ia masih ingin belajar, terutama terkait perkembangan teknologi kedokteran.

BEKASI – Bagi dokter bedah yang satu ini, profesi yang dijalaninya merupakan profesi mulia, menjadi perantara Tuhan dalam membantu proses penyembuhan penyakit. Di sisi lain, profesi dokter juga menjadi ujung tombak untuk menggali dan mempraktikan teknologi kedokteran.

Berpraktik di Siloam Hospitals Cikarang, dr. Leokwin Frederick, Sp.B memiliki segudang cerita menarik, terutama saat berdinas di wilayah Papua, tepatnya di salah satu Puskesmas Kabupaten Sorong, saat menjalankan tugas wajib kerja sarjana selama 3 tahun. "Di sana saya banyak belajar tentang makna kehidupan, bagaimana profesi sebagai seorang dokter merupakan profesi yang erat kaitannya dengan kemanusiaan," kenang dokter asal Manado ini.

Salah satu pengalaman yang masih diingatnya adalah saat ada seorang anak yang terkena tombak dan harus segera mendapatkan pertolongan. "Saya yang waktu itu bukan seorang dokter spesialis bedah harus melakukan tindakan. Akhirnya saya mencoba mengedukasi pihak keluarga, atas persetujuan pihak keluarga, saya memberanikan diri dengan peralatan seadanya dan dengan kemampuan ilmu kedokterannya yang saya miliki saya lakukan tindakan yang akhirnya dapat menyelamatkan nyawa pasien," cerita Loekwin.

Pengalaman di Papua secara nyata telah banyak mempengaruhi karir kedokterannya.  Selepas tiga tahun berdinas di Papua, dia memilih melanjutkan pendidikan kedokteran dengan mengambil Spesialisasi Bedah. Setelah lulus, ia kembali ke Tanah Papua, tepatnya Fakfak dan berdinas di sana selama 2 tahun, kemudian ‘pulang kampung’ ke Sorong untuk melanjutkan dinas selama 3 tahun. “Tujuan saya memang ingin saya mempraktikkan ilmu di sana. Akhirnya benar sekali, banyak pengalaman hidup dan kasus mungkin tidak akan saya temui di daerah lain, hanya ada di Papua,” tandasnya.

Di tahun 2005 di kembali ke Pulau Jawa dan berdinas di RS Borromeus selama dua tahun, hingga akhirnya seorang kawan lama mengajaknya bergabung dengan Siloam Hospitals Cikarang, lantaran ketika itu rumah sakit tersebut belum memiliki dokter bedah. “Tahun 2007 saya bergabung sebagai dokter bedah di Siloam. Kedepan, saya ingin terus belajar dan mengembangkan pengetahuan yang saya miliki, terutama soal perkembangan teknologi kedokteran,” pungkasnya.