Senin, 21 Mei 2018 20:25:00
Editor : Wahyu AH | Reporter : Leny Kurniawati
Lenny Agustin
Desainer Lenny Agustin
Foto : Leny Kurniawati
 

BEKASI – Lenny Agustin menilai kesempatan berwirausaha pada era digital semakin mudah. Tidak perlu repot lagi mencari tempat. Cukup di rumah saja dan memasarkannya lewat online.

“Berbeda dengan dulu. Harus punya butik, menarik klien juga susah karena harus punya karya yang masuk di majalah. Kalau baju kita dianggap enggak bagus, enggak bisa masuk majalah. Tapi sekarang posting di Instagram, semua orang bisa lihat,” ujar perempuan yang tertarik dengan dunia desain sejak SMP, ini.

Kondisi itu memang dirasakan Lenny. Bahkan, dia sampai membutuhkan waktu enam tahun pasca terjun secara profesional sebagai desainer untuk menggelar peragaan busana tunggal perdananya.

“Saat itu, saya mengangkat tema contoverchic yang bermakna desain kontroversial tetapi tetap chic,” tuturnya. Ada 60 busana yang dibagi dalam tiga kelompok berbeda. Pertama gaun informal berbahan batik dan tenun dengan tema Harajuku. Kedua, kebaya yang dipadupadankan rok tutu, yang melambungkan namanya sebagai desainer, serta kelompok ketiga kebaya pengantin.

Setahun setelah peragaan busana tunggal pertamanya, Lenny Agustin mendirikan merek Lennor yang melahirkan tren busana baru. Dari padu padan kebaya dan rok tutu, selanjutnya dia melahirkan tren batik muda yang penuh warna. Batik yang biasanya digunakan untuk busana resmi, kini dapat dipakai untuk aktivitas sehari-hari.

Lenny berharap, desainer muda mampu melahirkan konsep desain yang matang sebelum merancang busana. "Kebanyakan desainer Indonesia belum memikirkan konsep, tapi hanya bikin baju karena suka. Harusnya ada alasan dari setiap desain. Desainer harus pintar membuat konsep. Kalau cuma fokus pada cutting dan lainnya, percuma saja kalau tidak kuat di konsepnya," pungkasnya.

Baca Juga

Berikan Komentar Anda