Bekasi > Laporan Utama

Sejarah Kelurahan Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi

Rabu, 11 Oktober 2017 19:11 WIB
Editor : Muhammad Saiful Hadi | Reporter : Leny Kurniawati

Kelurahan Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi.
Kelurahan Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi.
Foto : Leny Kurniawati

Share this








Kelurahan jatirangga merupakan pemekaran wilayah Desa Jatisampurna pada tahun 1985.

BEKASI - Lurah Jatirangga, Namar Naris saat dikunjungi infonitas.com, Rabu (11/10) mengatakan, sejarah Kelurahan Jatirangga, kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, menurut sejarah dan cerita para sesepuh dan tokoh masyarakat, yakni berasal dari kata jati diambil dari pohon jati yang mempunyai arti kuat (kekuatan sejati), pasalnya pohon jati tersebut bisa tumbuh dalam waktu yang lama dan kayunya dapat dimanfaatkan untuk apa saja.

Menurutnya, kata rangga diambil dari nama leluhur (orang yang berpengaruh/sakti) di wilayah ini yang bernama Pangeran Rangga, hal tersebut bertujuan untuk mengenang ketokohan beliau.

Dijelaskannya, sejarah terbentuknya Kelurahan Jatirangga bermula dari pemekaran Desa Jatisampurna pada tahun 1983 yang waktu itu pejabat sementara kepala desa yaitu, H.Yusuf Nasih, setelah pemilihan kepala desa pertama pada tahun 1985 menjadi kepala desa depinitif periode 1985 -1993.

Lurah Jatirangga melanjutkan, setelah masa jabatan berakhir, kemudian diadakan lagi pemilihan kepala desa yang dimenangkan oleh Atma Wijaya, masa periode tahun 1993 hingga 2001.

Pada periode memasuki transisi perubahan desa menjadi kelurahan tahun 2001 hingga 2004, dan tetap dipegang oleh Atma Wijaya.

"Sekarang Kelurahan Jatirangga menjadi kelurahan definitif berdasarkan Perda nomor 04 tahun 2004, tanggal 28 Juni 2004, tentang pembentukan lembaga administrasi kecamatan dan kelurahan di Kota Bekasi," ungkapnya saat ditemui di Kelurahan Jatirangga.

Bahkan, Kelurahan Jatirangga memiliki visi terdepan dalam sumber daya manusia dan melestarikan dalam budaya menuju Kota Bekasi yang maju, sejahtera dan ikhsan.

"Tradisi adat istiadat atau budaya yang masih terjaga, yakni sedekah bumi (baritan), mauludan atau maulid Nabi Muhammad.S.A.W, dan kegiatan ritual mendem atau mendirikan rumah (tempat tinggal). Tradisi adat istiadat ini dikenal dengan nama buhun (bahan)," tutupnya