Bekasi > Laporan Utama

Pilkada Serentak Di Bekasi Dan Tangerang

Menteri Basuki Nyoblos di Bekasi, Ini Kriteria Pilihannya

Rabu, 27 Juni 2018 19:06 WIB
Editor : Muhamad Ibrahim | Reporter : R Maulana Yusuf

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono  bersama keluarga menggunakan hak suaranya dalam Pilkada Bekasi 2018
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono bersama keluarga menggunakan hak suaranya dalam Pilkada Bekasi 2018
Foto : R Maulana Yusuf

Share this








Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono memiliki kriteria sendiri dalam memilih paslon dalam Pilkada Bekasi

BEKASI - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono turut memberikan suaranya dalam pemilihan Gubernur Jawa Barat dan Wali Kota Bekasi pada Pilkada Serentak 2018, Rabu (27/6/2018).

“Saya tinggal di Komplek Pengairan Rawa Semut, Bekasi Timur sejak 1995. Sudah 20 tahun lebih. Saat Pemilu atau Pilkada, saya pasti mencoblos disini,” kata Menteri Basuki usai menggunakan hak konstitusionalnya ditemani oleh Ibu Kartika Basuki dan putrinya.

Menteri Basuki memiliki kriteria sendiri terhadap pemimpin yang dipilihnya. Pertama adalah pemimpin yang tahu persis budaya masyarakatnya. Budaya menjadi faktor penting untuk menyatukan bangsa. Dengan memahami budaya masyarakatnya, pemimpin juga bisa lebih mudah untuk merangkul masyarakatnya.

“Tidak harus putra daerah, karena Indonesia merupakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia harus tahu budaya masyarakat yang akan dipimpinnya, karena  budaya bisa mempersatukan kita,” jelasnya.

Pengetahuan kultural juga menjadi kunci kesuksesan seorang pemimpin karena akan lebih mudah mengajak masyarakat memajukan daerahnya.

“Sepintar atau sesukses apapun seorang Pemimpin kalau tidak faham budaya lokal pasti akan mengalami kesulitan," tutur Menteri Basuki.

Kriteria kedua yakni pemimpin harus siap tidak populer. Pemimpin hadir untuk membawa perubahan yang memajukan, karenanya perlu mengetahui karakter budaya orang yang diajak berubah.

Pemimpin harus punya keyakinan mana yang benar dan mana yang baik yang harus dilakukan untuk masyarakatnya yang sesuai budaya setempat. Misalnya hasil studi banding di suatu lokasi, bisa baik di daerah tersebut, namun belum tentu baik untuk daerah lainnya.

“Jangan takut tidak populer, menurut saya. Tapi dasarnya harus tahu persis budaya. Tidak mungkin kita memperoleh kesepakatan yang bulat 100%. Tidak mungkin kita bisa membahagiakan semua orang, tapi kita bisa mencari (pandangan dan sikap) yang paling dominan yang dapat diterima semua kalangan. Itu yang perlu kita lakukan,” pungkas Menteri Basuki.