Jumat, 23 Februari 2018 17:26:00
Editor : Muhamad Ibrahim | Reporter : Leny Kurniawati
Lika Liku Perjalanan Karier Ahmad Syaikhu
Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Ahmad Syaikhu
Foto : Leny Kurniawati
 

BEKASI - Ahmad Syaikhu, pria kelahiran Cirebon, 23 Januari 1965 mengawali kariernya di PNS sebagai auditor. Dirinya kemudian terjun di dunia politik dari legislatif hingga eksekutif.

Putra dari pasangan K.H Ma’soem bin Aboelkhair dan Nafi’ah binti Thohir ini mengenyam pendidikan dasar dari kelas 1-5 di SDN Ciledug III.

Ia terpaksa pindah sekolah ke SDN Lemahabang II karena ikut sang ayah yang dipindahtugaskan sebagai Ketua Kantor Urusan Agama Sindanglaut, Cirebon.

"Saya meneruskan sekolah ke SMPN dan SMAN Sindanglaut Cirebon. Setelah lulus, kuliah di Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN)," ungkapnya kepada Infonitas.com, Jumat (23/2/2018).

Pria yang akrab disapa Syaikhu ini, mengaku, mendapatkan pendidikan agama dari orang tua, guru privat, dan kiai-kiai di Pondok Pesantren Buntet Cirebon, Jawa Barat.

"Awal karier saya, sebagai Auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Provinsi Sumatera Selatan, Palembang dari tahun 1986-1989. Lalu, setelah itu ke BPKP Pusat pada Deputi Bidang Pengawasan Keuangan Daerah masih di tahun yang sama 1989," kata Syaikhu.

Pada 2004, Ahmad dicalonkan oleh PKS sebagai anggota DPRD Bekasi. Terkait, terjunnya ke dunia politik membuat dirinya harus memilih antara tetap menjadi PNS atau seorang politikus.

Ia sempat meninggalkan statusnya sebagai PNS dan resmi menjadi Anggota DPRD Bekasi tahun 2004-2009. Di PKS, dia sempat dipercaya menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPRD Jawa Barat.

Bahkan, sebelum berakhir tugasnya di DPRD Bekasi, suami dari Lilik Wakhidah ini mencalonkan diri sebagai calon Wali Kota Bekasi pada 2008. Namun, kalah dari pasangan Mochtar Mohammad-Rahmat Effendi.

Selang setahun, ayah 6 anak ini terpilih sebagai anggota DPRD Jawa Barat dan menjabat pada periode 2009-2013. 

Sukses di legislatif, Syaikhu kembali mencoba bertarung pada Pilkada Bekasi. Kali ini, maju sebagai calon wakil Wali kota Bekasi. Saat usianya 48 tahun, dirinya terpilih sebagai wakil Wali Kota Bekasi mendampingi Wali Kota Rahmat Effendi. Mereka dilantik pada 10 Maret 2013 dan menjabat hingga 2018.

Di samping karier politiknya, ia juga aktif dalam berorganisasi. "Sejak SMP dan SMA, saya menjadi pengurus OSIS. Sedangkan saat kuliah, dipercaya sebagai Ketua Bidang Kerohanian Islam dan Ketua Masjid Kampus Baitul Maal Badan Pendidikan dan Latihan Keuangan (BPLK)," kata Syaikhu.

Bersama teman-teman, dirinya ikut mendirikan beberapa yayasan di antaranya Yayasan At-Tibyan di Jakarta Timur yang bergerak dalam pendidikan Islam dengan membuka TPA, Yayasan Istiqomah Bina Umat (IBU) di Pondok Gede Bekasi yang bergerak dalam Tahfidzul Qur’an (menghafalkan Al-Qur’an), serta Yayasan Adzkia di Bekasi Timur yang bergerak di bidang sosial dan ekonomi.

Pernah juga menjadi Dewan pengawas Yayasan Islamic Center IQRO dan Ketua Ta’mir Masjid Annur, Yayasan Miftahul Amal Bojong Rawalele Jatimakmur Pondok Gede Bekasi.

Tak hanya itu, aktif berorganisasi baik di bidang agama maupun sosial, Syaikhu juga mengaku, menyukai olahraga bulutangkis dan menembak. Ia bahkan, dikukuhkan sebagai Ketua Perbakin (Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia) Cabang Kota Bekasi.

Ia menambahkan, keahliannya dalam menembak didapatkan, saat pembekalan Konsepsi Nasional bagi pimpinan dan anggota DPRD se-Indonesia gelombang I di Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional) yang berlokasi di Sekolah Polisi Negara Lido Sukabumi.

Melalui pembekalan tersebut, Ahmad berhasil meraih peringkat pertama. Pada tahun 2017, Ahmad maju sebagai calon Wakil Gubernur Jawa Barat mendampingi Mayjen Purnawirawan Sudrajat yang diusung Partai PKS dan Gerindra. Mereka akan bertarung dalam Pilkada 2018. 

Suka dan duka yang dialami banyak tantangan yang dihadapi masing-masing pengalaman ketika mendapatkan di palembang. Sempat, saat itu kembali ke Jakarta untuk menikah dan mulai memiliki anak, itu pun sempat terpecah perhatiannya antara pendidikan anak dan harapan yang ia inginkan. 

Tantangannya kata dia ketika birokasi kerja yang mengikuti segala keteraturan dan masuk dunia politik. Politik adalah dunia yang tidak teratur khususnya pada waktu kerja. Saat mengambil keputusan dan kerjaan.

"Saya harus menyiapkan waktu yang all out, sepanjang hari dan sepanjang malam. Pengambilan kebijakan dan keputusan publik di malam hari kita harus siap dengan segala konsekuensi yang ada dan siap untuk ikut mengambil kebijakan saat malam yang harusnya istrahat kita harus menerima konsekuensi," paparnya.

Dukungan dari keluarga, seperti istri dan anak menjadi kekuatannya. Mereka, bisa memahami dan mengerti tugas-tugasnya di dalam kesibukan- kesibukan untuk membangun masyarakat baik di Kota Bekasi atau di Jawa Barat sebelumnya.

“Tentu ini semua sangat mendukung bagaimana kita harus optimal guna menunaikan kerja-kerja dalam pengambilan kebijakan publik,” bebernya.

Baca Juga

Berikan Komentar Anda