Bekasi > Laporan Utama

HUT ke-71, Pemuda Demokrat Dorong Pemimpin Berjiwa Pancasila

Kamis, 31 Mei 2018 14:45 WIB
Editor : Muhamad Ibrahim | Reporter : Leny Kurniawati

Ketua Pemuda Demokrat Kota Bekasi, King Vidor
Ketua Pemuda Demokrat Kota Bekasi King Vidor
Foto : Leny Kurniawati

Share this








Pemuda Demokrat berharap di Indonesia lahir para pemimpin yang berjiwa Pancasila

BEKASI - Bertepatan dengan Hut ke-71 pada 31 Mei 2018, Pemuda Demokrat Indonesia (Pemuda Demokrat) berharap di Indonesia lahir para pemimpin berjiwa Pancasila baik di level pusat hingga daerah.

"Setiap pemimpin di Indonesia dari bupati, wali kota, gubernur hingga presiden haruslah berjiwa Pancasila. Itu harga mati bagi Pemuda Demokrat," ujar Ketua Pemuda Demokrat Kota Bekasi, King Vidor, melalui siaran persnya kepada media, Kamis (31/5/2018).

Menurutnya, kepemimpinan berjiwa pancasila sangat dibutuhkan hari ini di tengah tantangan perubahan zaman yang bergerak begitu cepat.

Adapun tantangan yang paling nyata yang harus dihadapi oleh Indonesia hari ini adalah dalam bidang ekonomi. Di mana kata King, perekonomian ke depan akan semakin berat.

King melanjutkan, ekonomi ke depan akan masuk pada sebuah kondisi (Volatility), tidak pasti (Uncertainty), rumit (Complexity), dan serba kabur (Ambiguity) atau populer dengan istilah VUCA.

VUCA sendiri adalah efek dari revolusi dunia digital atau yang kita kenal dengan revolusi industri 4.0.

Dalam kondisi seperti itu hemat King, pemimpin berjiwa Pancasila sangat diperlukan oleh Indonesia.

"Pancasila menyangkut semua aspek, termasuk soal ekonomi. Maka jika seorang pemimpin berjiwa Pancasila, maka ia tentu memiliki pandangan ekonomi dan visi tentang ekonomi yang Pancasila yang tentu akan menjadi sebuah jawaban dari persoalan perekonomian yang ada," kata dia.

Selain di sektor ekonomi, tantangan terberat bangsa Indonesia yakni hilangnya identitas kebangsaan atau jati diri.

Menurut King, hilangnya identitas kebangsaan adalah bahaya paling laten dari sebuah bangsa.

"Hilang jati diri sebuah bangsa, maka hancurlah semuanya. Makanya sadar atau tidak sebagai sebuah bangsa identitas kita terus digerus oleh kekuatan dari luar. Tujuannya tidak lain agar kita bisa dikuasai tanpa kita pernah sadar. Inilah yang Bung Karno bilang neo imprealisme," tandas King.

Lanjut kata King, tidak heran jika hari ini muncul paham-paham baru, terutama yang mencoba mempertentangkannya dengan Pancasila. Itu tidak lain efek dari mulai hilangnya identitas kebangsaan.

"Maka kami Pemuda Demokrat sepakat agar pemimpin berjiwa Pancasila harus hadir di Indonesia di semua level dan tingkatan. Sebab hanya dengan berpancasila maka bangsa ini akan selamat," pungkasnya