Bekasi > Laporan Utama

Bisnis Properti Semakin Meroket

Kamis, 22 Desember 2016 10:54 WIB
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : Leny Kurniawati

Site Plan Vida Bekasi
Foto : Ibnu Wibowo

Share this








Kebijakan pemerintah, seperti tax amnesty, dan perbaikan infrastrukur menyebabkan pertumbuhan properti terus meningkat.

Info Utama - Tiga tahun terakhir, pengembang-pengembang ternama mulai mengibarkan bendera bisnisnya di kawasan Bekasi. Sebut saja Gunas Land membangun Vida Bekasi, PT Metropolitan Land TBK meluncurkan komplek hunian Metland Tambun, Agung Sedayu Group mendirikan Grand Galaxy City, Summarecon Agung Tbk menggarap Summarecon Bekasi.

ISPI Group pun tak mau kalah. Pengembang yang hadir di Bekasi sejak 1990 ini telah meluncurkan lebih dari 10 proyek. Seperti, Villa Bekasi Indah 1 dan 2, Villa Mutiara Gading 1, 2, dan 3, Mutiara Gading Timur 1 dan 2, Grand Mutiara Gading, Villa Gading Baru, Cifest, Mutiara Gading City, dan lainnya. 

Menurut Preadi Ekarto, Komisaris Utama ISPI Group, pertumbuhan properti di Bekasi menjadi indikator nasional. Pasalnya, kebutuhan perumahan di kawasan tersebut tinggi. “60 persen kebutuhan rumah di Indonesia terbesar di Jawa. Dari 60 persen tersebut, 60 persen ada di Jabodetabek. Bekasi menjadi wilayah terbesar sebarannya karena memiliki kawasan industrial seluas lebih kurang 40 ribu hektare,” jelasnya.

Pertumbuhan properti, lanjut Preadi, disebabkan beberapa hal. Kebijakan pemerintah dan perbaikan infrastruktur salah satunya. “Tax amnesty yang diberlakukan pemerintah, mempengaruhi penjualan properti. Peningkatan sudah mulai terasa sejak deklarasi dan terus meningkat dengan seiringnya orang menyetorkan uang ke tax amnesty. Suku bunga pun cenderung menurun. Otomatis cicilan akan lebih murah,” katanya.

Kenaikan properti, diakui Preadi mencapai 20-30 persen. “Melihat peningkatan penjualan di penghujung tahun, kami optimis tahun depan pertumbuhan properti, khususnya di Bekasi terus meningkat. Kalau properti tumbuh, 170 industri terkait pun akan tumbuh. Perbaikan infrastruktur juga mempercepat pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.

Hal ini pun juga diakui Kartika, Pimpinan Metland Tambun. Di penghujung 2016, properti di Bekasi mengalami kenaikan hingga 20 persen. “Kondisi ekonomi lebih baik dibanding tahun lalu. Kenaikan penjualan properti disebabkan dua hal: faktor eksternal, seperti kebijakan pemerintah mengenai pajak, kebijakan BI mengenai LTV akan mempengaruhi pembayaran untuk KPR; dan faktor internal, seperti kenaikan harga, cara pembayaran, dan keterbatasan lahan,” katanya. 

Edward Kusma, Direktur Vida Bekasi, pun mengamininya. Kebijakan yang diterapkan pemerintah berdampak pada penjualan properti. “Pemerintah harus mengeluarkan kebijakan yang positif, seperti penurunan suku bunga, mempermudah kepemilikan rumah. Kebijakan seperti ini yang ditunggu pengembang, karena dampaknya akan semakin kentara. Perbaikan infrastruktur juga membantu pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.

Persaingan

Maraknya pengembang hadir di Bekasi, otomatis membuat persaingan di bisnis ini semakin ketat. Meski demikian, para pelaku bisnis ini menganggap persaingan sebagai sesuatu yang wajar terjadi. Bahkan, mereka tidak khawatir kalah bersaing, karena masing-masing membidik pasar yang berbeda serta memiliki keunggulan masing-masing. Edward mengatakan pihaknya menghadirkan konsep berbeda dari pengembang lainnya, yakni tropical urbanism. “Kami hadirkan konsep unik di setiap produk,” katanya.

Menghadapi persaingan, menurut Kartika, selain meluncurkan produk yang sesuai kebutuhan pasar, Metland Tambun memberikan promo menarik. “Kami siap menghadapi persaingan, karena lokasi kami strategis, yakni di Jalan Raya Sultan Hasanudin, sehingga mudah di akses. Harganya pun bersaing dan fasilitas yang kami berikan lengkap,” tutupnya.