Bekasi > Laporan Utama

Nasib Transportasi Tua

Beda, Bajaj Bukan Angkutan Lawas di Bekasi

Kamis, 13 April 2017 14:03 WIB
Editor : Denisa Tristianty | Reporter : Yusuf Bachtiar

Bajaj di Bekasi.
Bajaj di Bekasi.
Foto : Yusuf Bachtiar

Share this





Beda, Bajaj angkutan lawas di Bekasi, namun tetap merakyat.

BEKASI – Angkutan umum roda tiga atau biasa disebut Bajaj mungkin bagi warga Jakarta merupakan pemain lama dalam dunia transportasi umum. Keberadaan Bajaj diperkirakan sudah ada sejak puluhan tahun silam, namun berbeda dengan di Kota Bekasi.

Bajaj merupakan moda transportasi baru yang hadir dan resmi beroperasi pada medio Oktober 2016. Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengatkan kebijakan menghadirkan Bajaj di Bekasi merupakan langkah untuk memberikan pelayanan transportasi yang nyaman dan ramah lingkungan kepada masyarakat.Sebab, Bajaj biru beroperasi di Bekasi merupakan bajaj dengan bahan bakar Gas.

Mursad, salah satu pengendara Bajaj mengatakan sejauh ini keberadaan Bajaj di Kota Bekasi cukup diterima dengan baik. Terbukti, minat masyarakat dalam menggunakan Bajaj bisa dikatakan meningkat sejak 6 bulan beroperasi.

"Banyak penumpangnya, orang-orang pada abis dari pasar kan mendingan naik Bajaj. Nyaman bawa belanjaan banyak," kata Mursad saat dijumpai Infonitas.com di pangkalan Bajaj, depan Pasar Baru, Jalan M. Yamin, Bekasi Timur, Kamis (13/4/2017).

Tarif Bajaj, kata Mursad, memakai tarif tergantung jarak tempuh yang dilalui. Dia mencontohkan, dari Pasar Baru ke Jalan Baru underpass Duren Jaya atau ke Rawa Semut dikenakan Rp 20 ribu.

Baca : Dari Pada Corat-Coret, Siswa SMAN 2 Tangsel Pilih Donasikan Seragam

"Tarif sama semua emang udah ditetapin, karena kan emang kami baru di sekitaran Pasar Baru dan Bekasi Timur. Enggak boleh ke Jalan protokol seperti Jalan Ahmad Yani atau Ir. H Juanda," terangnya.

Rata-rata,  kata mantan penegemudi angkot ini menerangkan alasan utama yaitu mengendarai Bajaj jauh lebih murah ketimbang angkot. Dengan modal Rp 22 ribu, bahan bakar Bajaj sudah terisi penuh dan bisa diajak mencari nafkah seharian.

"Kalo angkot kan Rp 60 ribu bensinnya. Belom setorannya, kalo Bajaj setorannya cuma Rp 80 ribu, pendapatan kami sehari bisa Rp 150 ribu, kan masih ada untung Rp 70 ribu," kata dia.

Dilihat dari perkembangan Bajaj yang sudah ada sejak lama terutama di Jakarta, kehadiran Bajaj di Kota Bekasi seakan menjadi moda transportasi baru dengan cita rasa yang sama seperti Bajaj pada umumnya.