Bekasi > Kesehatan

Mengenal Dumolid

Jumat, 11 Agustus 2017 10:00 WIB
Editor : Raymondo Arditya | Sumber : DBS

drugs
Istimewa
Foto : istimewa

Share this








Dumolid termasuk kepada jenis psikotropika golongan 4. Apabila disalahgunakan, akan menimbulkan efek negatif.

JAKARTA – Narkoba sedang mengintai dunia seni peran Indonesia. Setelah kasus narkoba menjerat ridho Rhoma dan Pretty Asmara, pasangan Tora Sudiro dan Mieke Amalia harus berurusan dengan pihak Satuan Narkoba Polres Jakarta Selatan atas dugaan penyalahgunaan psikotropika berjenis dumolid.

Menurut Kabag Humas BNN, AKBP Sulistyan Driatmoko, dumolid termasuk jenis psikotropika golongan 4.

"(Dumolid) itu termasuk psikotropika golongan 4, nama (obat) generiknya nitrazepam," jelas Sulistyan seperti dilansir dari cnnindonesia.com, Jumat (4/8/2017).

Sebenarnya dumolid bukanlah jenis obat-obatan baru. Dumolid merupakan obat yang telah lama digunakan sebagai pengobatan medis. Dokter spesialis kejiwaan, Benny Ardjil menuturkan, dumolid diberikan pada pasien yang mengalami gangguan tidur atau insomnia.

Obat tidak dijual secara bebas karena harus melalui resep dokter. Pasalnya, jika digunakan sembarangan, obat ini akan memiliki efek yang bertolakbelakang.

"Efek penggunaan obat ini, (pasien) ngantuk, tapi kalau dipakai tanpa resep dokter dan jangka waktu lama misal 3-4 tahun, efeknya bisa terbalik. Bukan ngantuk tapi semangat," katanya.

Ia menambahkan, tak semua pasien kejiwaan diberi obat ini. Namun mereka yang mengalami stres dan depresi disertai gangguan tidur, maka dumolid diresepkan bagi pasien. Sama seperti pasien kejiwaan, pengguna sabu atau ekstasi menggunakan dumolid atau happy five untuk membantu mereka tidur.

"Dumolid ada juga yang menyalahgunakan. Pengguna sabu, ekstasi enggak bisa tidur, mereka supaya tidur pakai itu," tambahnya.

Dalam kasus pasien yang diresepkan dumolid, Benny sendiri biasanya meresepkan obat tersebut hanya dua bulan. Dalam beberapa kasus, ada juga yang terpaksa mengonsumsi dumolid hingga hitungan tahun.

Diakuinya, dumolid memang memberi efek ketergantungan, tetapi, lanjutnya, semua efeknya masih bisa dikendalikan jika masih dalam dosis terapi sesuai resep dokter.

Sama seperti sabu dan obat terlarang lainnya, pemakaian dumolid tanpa resep akan menyebabkan ketergantungan. Selain itu, dosis yang dipakai pun makin lama makin berlipat ganda.