Bekasi > Kesehatan

Efek Vaksin Palsu Bagi Kesehatan Anak

Jumat, 16 Desember 2016 10:36 WIB
Editor : | Sumber : DBS

Ilustrasi
Ilustrasi

Share this





Pemkot Bekasi membuka posko pengaduan untuk masyarakat yang merasa dirugikan akibat vaksin palsu.

Kesehatan - Mencuatnya kasus vaksi palsu tentu membuat para orangtua khawatir.  Kekhawatiran itu memuncak, saat Kementerian Kesehatan merilis daftar rumah sakit yang menggunakan vaksin palsu. Mereka sontak langsung menggeruduk rumah sakit terkait. Terutama, bagi para orangtua yang pernah melakukan vaksinasi anaknya di rumah sakit tersebut.

Kemenkes sendiri berusaha mencairkan suasana. Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menganjurkan anak yang terpapar vaksin palsu harus kembali melakukan imunisasi, karena penggunaan vaksin palsu tidak akan memberikan manfaat sesunguhnya dari tujuan imunisasi. “Kalau isinya hanya cairan, tentu tidak berfungsi sama sekali. Jadi, kami berikan ulang pada mereka.”

Dr. Aman B Pulungan, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan bukan berarti membahayakan. Seharusnya, kandungan dalam vaksin palsu tidak berefek samping bagi anak-anak yang terlanjut terpapar. “Kalau efek jelek atau efek samping dari seluruh komponen ini, harusnya tidak terjadi. Paling, anak hanya tidak memperoleh imunitas yang seharusnya,” ujarnya di Gedung Parlemen Jakarta beberapa waktu lalu.

Meskipun ada, lanjutnya, bukan dampak dari kandungan vaksin, melainkan muncul jika pengolahan vaksin tidak steril. “Kalau dilakukan dengan cara tidak steril, kemungkinan infeksi. Seharusnya, kalau infeksi akan terjadi infeksi akut,” kata Pulungan.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) pun sudah melakukan uji penelitian terhadap 39 sampel. Dari jumlah tersebut, hanya empat jenis vaksin yang dinyatakan palsu, dalam arti kandungannya tidak sesuai pedoman. Yakni, vaksin triapaceal yang hanya memiliki kandungan natrium klorida dan vaksin hepatitis B. Seharusnya, vaksin jenis ini mengandung toksoid difteri, toksoid tetanus, dan vaksin hepatitis B.  serum anti tetanus hanya mengandung natrium klorida saja, tanpa serum anti tetanus.

Vaksin palsu selanjutnya adalah tripacel. Kandungannya hanya antigen pertusis. Seharusnya, toksoid difteri, toksoid tetanus, dan vaksin hepatitis B. Begitupun pediacel yang hanya memiliki kandungan hepatitis B. Menurut pedoman, vaksin pediacel mengandung toksoid difteri, toksoid tetanus, vaksin Acellular Pertusis, vaksin polio (IPV). “Artinya, anak yan mendapat vaksin ini (palsu) hanya kebal hepatitis. Tapi tidak ter-cover yang lainnya. Seharusnya dapat empat haknya, tapi hanya satu,” ujar Pulungan.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bekasi Tetty Manurung mengatakan sesuai instruksi wakil walikota, pihaknya membuka posko pengaduan untuk masyarakat yang merasa dirugikan akibat vaksin palsu. “Berdasarkan temuan vaksin palsu yang dirilis Kemenkes, untuk sementara ini hanya ada tiga RS di lingkungan Kota Bekasi: RS St Elizabeth Narogong, RS Permata Bekasi, RS Hosana Medika Bekasi. Saat ini sudah ada posko pengaduan di Dinkes Kota Bekasi. Ke depannya, kami akan buat posko pengaduan lainnya, seperti di puskesmas hingga vaksin palsu sudah tidak ada lagi,” tuturnya saat dijumpai di kantor Pemkot Bekasi, Jumat (15/7).

Untuk menelusuri anak-anak yang telah terpapar vaksin palsu, lanjut Tetty, Dinkes Kota Bekasi yang membawahi 35 puskesmas telah memerintahkan untuk mengecek klinik-klinik dan dokter praktik swasta yang berada di bawah jajarannya. “Kami sudah perintahkan seluruh puskesmas meneliti kembali klinik dan rumah sakit yang ada di Kota Bekasi. Khusus tiga rumah sakit yang menggunakan vaksin palus, kami akan lebih intens pengawasannya mulai hari ini,” tutup Tetty.